‘Menjual’ Danau Toba

Namanya kian melekat di ingatan banyak pelancong lokal maupun internasional. Keindahan, keagungan dan kebesaran sejarah terbentuknya seakan membuat danau yang satu ini abadi dalam dunia kepariwisataan. Saat ini, danau yang terletak di tengah-tengah wilayah Provinsi Sumatera Utara itu diplot sebagai salah satu dari sepuluh prioritas utama destinasi nasional. Ya, danau yang satu ini disejajarkan dengan pesona 9 tempat wisata alam lainnya di Indonesia seperti, Morotai (Maluku Utara), Mandalika (Lombok, NTB), Wakatobi (Sulawesi Utara), Labuan Bajo (NTT), Kepulauan Seribu (Jakarta), Candi Borobudur (Jawa Tengah), Bromo (Jawa Timur), Tanjung Kelayang (Provinsi Bangka Belitung), serta Tanjung Lesung (Banten). Danau itu bernama Danau Toba.

Berjualan Danau Toba
Danau ini memang layak ‘dijual.’ Dijual dalam artian dipasarkan keindahannya ke tingkat global sebagai salah satu destinasi wisata alam yang menjanjikan pesona alam kelas wahid. Hal itulah yang mendasari program unggulan Presiden Joko Widodo dalam bidang kepariwisataan saat ini. Danau Toba menjadi satu dari 10 lokasi baru di Indonesia yang akan setara posisinya dengan Bali.

Keseriusan pemerintah dalam menggaungkan Danau Toba untuk terus eksis ke pasar pariwisata Internasional diungkapkan oleh Menteri Pariwisata saat ini, Arief Yahya. Arief Yahya mengatakan bahwa pemerintah sedang serius menggarap 10 lokasi baru di seluruh pelosok tanah air yang mampu bersanding dengan Bali, dan salah satunya adalah Danau Toba. Menteri yang pernah menjabat Dirut PT Telkom itu sangat mengagumi Danau Toba sejak kecilnya. Baginya, melihat Danau Toba adalah melihat keindahan sebuah cinta.

Tantangan ‘Menjual’ Danau Toba
Dalam rangka memasarkan dan mempromosikan Danau Toba untuk lebih eksis di tingkat global, Kementerian Pariwisata mengakui bahwa tidak sedikit kendala dan tantangan yang dihadapi. Tantangan utama terletak pada sisi otoritas pengelola Danau Toba. Harus diakui bahwa saat ini keberadaan Danau Toba memiliki segelumit polemik dalam pengelolaannya. Hal ini dikarenakan saat ini sangat banyak stake holder terkait, baik dari pihak swasta, kaum adat, serta pemerintah yang ambil bagian dalam pengelolaan danau yang cantik ini.

Tantangan berikut yang tidak kalah beratnya adalah perihal peraturan. Seperti diketahui, saat ini Indonesia telah menerapkan Undang-undang tentang Otonomi Daerah. Dalam konteks kepariwisataan di daerah, banyak sekali tumpang tindih kebijakan baik yang menyangkut tugas pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Menyangkut tantangan ini, Arief Yahya mengatakan bahwa pihaknya akan segera membentuk satu otoritas khusus untuk mengelola Danau Toba nantinya. Otoritas tersebut disinyalir akan berbentuk badan otorita. Badan ini secara khusus akan diminta menyediakan perencanaan, menyusun regulasi, melakukan studi perbandingan dengan pengelolaan objek-objek wisata di luar negeri serta pengelolaan share infrastructure Danau Toba. Pemerintah menginginkan Danau Toba di masa yang akan datang adalah danau yang berskala global, bukan lagi sebatas wisata lokal yang pengelolaannya dirasa masih sangat konvensional.

Bila Dijual, Danau Toba Akan Sumbang Miliaran Dolar Setiap Tahun
Apa yang tengah dirancang pemerintah melalui Kementerian Pariwisata, memiliki sasaran yang tidak main-main. Target khusus yang diusung untuk pengembangan Danau Toba adalah mendatangkan devisa tidak kurang dari USD 12 miliar setiap tahunnya. Angka USD 12 miliar diperoleh berdasarkan asumsi pengunjung Danau Toba sebesar 12 juta orang (pada 2016). Jumlah devisa itu diyakini akan terus meningkat bila pengunjung mancanegara dan lokal yang datang ke Danau Toba dapat mencapai 20 juta orang pada 2019.

Faktor pendukung untuk mencapai target tersebut juga sudah disiapkan pemerintah. Saat ini, Bandara Internasional Kuala Namu akan dijadikan poros terminal utama kedatangan wisatawan dari mana saja. Untuk akses jalan menuju danau yang terbentuk 76 ribu tahun yang lalu itu, akan disiapkan infrastruktur jalan darat yang memadai, yakni berupa perluasan jalur Tebing Tinggi menuju Pematang Siantar dan jalur Pematang Siantar menuju Rantau Prapat. Semoga, dengan keseriusan pemerintah saat ini, Danau Toba dapat benar-benar menjadi Bali Indonesia berikutnya.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.