Situs Iklan Baris IklanLinimemuat...

Category archive: Adat Istiadat

Kisah Sejarah Dari Makam Pendiri Kota Solo Ki Gede Sala yang Melegenda

Dalam istilah Jawa, Kuncen adalah penjaga makam yang nantinya bertugas mengkondisikan area makam agar senantiasa bersih. Sari Dewi Susanti adalah Kuncen dari Ki Gede Sala yang beralamat di Ndalem Mloyokusuman RT 001/012, Baluwarti, Surakarta, Jawa tengah. Atau lebih tepatnya ialah di dalam kompleks keraton Kasunanan Surakarta. Makam ini merupakan salah satu makam yang ramai didatangi oleh para peziarah yang mempunyai keyakinan yang begitu sakral.

Makam ini selalu ramai dengan para peziarah yang datang dari lokasi dalam kota maupun luar kota sekalipun. Para pengunjung datang tak menentu dari waktu pagi, siang, sore bahkan malam sekalipun. Hari-hari biasa maupun liburan tak menjadi pengaruh, dan para peziarah pun selalu berdatangan entah itu dari kota dekat maupun jauh. Pada malam selasa kliwon dan jumat kliwon adalah malam dengan kunjungan peziarah yang paling banyak dibandingkan hari-hari biasanya.

Para peziarah pun percaya bahwa dengan berziarah ke makam Ki Gede Sala akan memperoleh berkat. Di samping itu, di sisi makam Ki Gede Sala terdapat makam lain atas nama Kiai Carang dan Nyai Sumedang. Dalam ziarah tersebut, para peziarah memiliki kebiasaan masing-masing, seperti menabur bunga, memanjatkan do’a dan lain-lainnya. Makam yang disakralkan ini diyakini oleh para pengunjung memberikan berkah tersendiri, sehingga para peziarah yang datang tak sedikit yang mengajukan do’a dan harapan baik.

Makam Ki Gede Sala memang menjadi makam yang seringkali didatangi oleh para peziarah dari berbagai tempat. Bahkan, para peziarah itupun bukan hanya masyarakat biasa tetapi juga para pihak yang berstatus seperti pejabat negeri. Para wisatawan religius yang berkunjung rela datang dari jauh-jauh untuk berziarah ke makam Ki Gede Sala. Siapakah beliau?

Ki Gede Sala seringkali disebut sebagai pendiri kota Solo ini dan sesepuh atau orang terpercaya di Keraton Kasunanan Surakarta. Menurut Sari Dewi Susansi selaku Kuncen dari makam yang disakralkan ini, menuturkan bahwa Surakarta pada era dulu adalah rawa, dan Ki gede Sala ialah sosok yang telah mengeringkannya. Barulah selepas itu, Paku Buwono II dari Kartasura berpindah ke Desa Sala, tepatnya di tahun 1745 hingga sekarang ini.

Sang Kuncen menuturkan bahwa makan Ki Gede sala telah dikunjungi oleh banyak peziarah. Dari warga sekitar Solo hingga luar Surakarta yang notabene berasal dari kota jauh. Tak luput pula dari kunjungan ziarah dari para pejabat dan petinggi negeri. Hal ini tak hanya sekali dan cukup sering ditemui meskipun tak datang secara bersamaan. Adapun pihak-pihak bersangkutan seperti:

• Almarhum Soeharto (semasa beliau masih hidup),
• Letjen (Purn) Sarwo Edhi Wibowo,
• Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, dan lain-lainnya.

Tak hanya para pejabat tersebut saja Pemerintah Kota Solo pun melakukan ziarah ke makam secara teratur yakni setiap memperingati hari kelahiran kota Surakarta ini. Kemudian juga di bulan Februari para pejabat tinggi di Pemerintah Kota Surakarta melakukan ziarah secara kompak tanpa terkecuali, entah itu para ketua hingga wakil ketua.

Dalam kunjungan ziarah ini, Pemerintah Kota sendiri tak hanya membawa bunga yang ditaburkan di atas makam, tetapi juga memanjatkan do’a. Selain itu, napak tilas juga dilakukan, yang mana kegiatan ini telah dimulai sejak wali kota Solo yang pertama hingga sekarang ini. Sehingga menjadi sebuah tradisi yang diaplikasikan secara turun menurun sedari masa silam sampai sekarang ini.

Menikmati Satu Hari Kunjungan ke Desa Adat Sentajo

Selama ini mungkin Anda sendiri bosan dengan mendatangi obyek wisata yang kebanyakan hanya tawarkan keindahan alamnya saja, sekali-kali cari tema berbeda untuk liburan Anda, tak harus dengan pantai, gunung atau juga kuliner, melainkan budaya. Apa sih di Indonesia ini yang tak dimiliki, termasuk dalam negara yang kaya akan berbagai budaya, beda suku, bahasa dan tentunya ada hal unik yang bisa didapatkan disini, salah satunya adalah seni. Selain dijadikan sebagai hiburan mengunjungi sebuah tempat wisata budaya juga menambah nilai edukasi bagi Anda.

Pekanbaru, salah satu daerah yang ada di Riau, apa yang selama ini terlintas di kepala Anda terkait dengan daerah tersebut, mungkin jarang sekali yang menengok wisata budaya yang ditawarkan disini, karena kebanyakan memang hanya senang dengan obyek wisata alam, khususnya maritim yang ada disini. Namun satu hal yang juga tak boleh Anda lupakan adalah dengan mendatangi kawasan pemukiman dari warga, tepatnya adalah di daerah Kuangsing, ini merupakan wisata adat dari masyarakat di Sentajo, Anda akan disuguhkan oleh rumah besar nan tinggi yang terbuat dari kayu asli.

Ini adalah rumah adat dari masyarakat yang ada disini, bangunannya masih kokoh dengan tambahan cat warna-warni. Sangat khas dari masyarakat zaman dahulu, apalagi jika Anda melihat dari desainnya. Bangunan tersebut disangga dengan kayu-kayu kokoh yang ukurannya cukup tinggi, nampak seperti rumah panggung. Memang bukan hal yang mustahil jika kebanyakan warna sekilas memang masih mengaplikasikan konsep rumah ini, mengingat banyak diantara binatang liar yang masih hidup di kawasan tersebut, demi keamanan rumah panggung masih digunakan.

Di sampingan rumah yang satu ini ada sebuah garasi pacu yang didalamnya disini dengan kuda-kuda, inilah daya tarik dari kawasan ini, karena memang kebanyakan diantara masyarakatnya masih menggunakan kuda sebagai sarana transportasi. Ada beberapa kuda yang siap mengantar Anda untuk berkeliling desa. Tak kalah dengan hal tersebut ada satu lagi keunikan yang wajib untuk Anda tengok yaitu sambutan menarik dengan suguhan tari khas daerah. Hanya saja konsep dari tari tradisional yang satu ini juga agak unik dibandingkan dengan tari-tari lainnya.

Jika biasanya pengunjung diberikan liukan lemah gemulai dari para penari maka disini tidak, Anda justru akan disajikan sebuah atraksi antara tali dengan silat, dua orang akan memamerkan keunggulan mereka di hadapan penonton, memakai kain adat yang khas diiringi dengan tabuhan gamelan atau musik tradisional ia akan menemani beberapa menit waktu Anda selama berada disini. Kebiasaan dari masyarakat di kawasan ini memang dengan memberikan sambutan terbaik pada tamu mereka, sehingga bukan hal yang mengherankan jika sekali ada yang datang maka ratusan masyarakat akan langsung memadati rumah singgah.

Rumah singgah dengan konsep rumah panggung tersebut bisa memuat banyak orang, meskipun terlihat lawas, namun ternyata sangat kokoh. Didalamnya nanti Anda akan langsung menemukan dekorasi unik, jauh dari konser rumah modern. Selesai penyambutan akan langsung dilanjutkan dengan makan-makan. Sajian kuliner khas ini tentunya patut untuk Anda rasakan. Banyak hal baru yang dapat ditemukan selama berada disini, agar Anda tak melupakannya bawa kamera untuk mengabadikan moment sebanyak-banyaknya. Satu hal yang harus diingat karena memang Anda akan menyambangi budaya lokal maka sebaiknya kenakan busana yang sopan. Kawasan ini masih terlalu jauh dikatakan terkena dampak dari globalisasi budaya luar negeri.

Atraksi Mistis di Riau yang Mulai Meredup Namun Merupakan Atraksi Budaya Terbaik

Ragam kebudayaan bangsa Indonesia memang beragam, dan menjadi salah satu kebanggaan Kita di mata dunia. Wisatawan yang datang selain ingin menikmati keindahan obyek wisata yang didatangi juga tertarik melihat atraksi budaya di masing-masing daerah. Wisatawan mancanegara biasanya menjadi pengunjung yang sangat antusias untuk melihat atraksi khas tersebut. Maka tidak mengherankan jika Pulau Bali yang sarat akan atraksi budaya mampu menyedot ribuan wisatawan asing untuk datang.

Perlu diakui bahwa selain Pulau Bali, setiap daerah memiliki atraksi khas dan unik dan mengandung makna yang tinggi. Artinya masing-masing daerah memiliki potensi untuk menggaet kunjungan wisatawan, baik lokal maupun internasional. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang berasal dari luar daerah penasaran dengan atraksi unik di daerah lain. Sehingga menyempatkan waktu menyusun jadwal kunjungan ke daerah tersebut untuk melihat secara langsung. Bagi yang tengah menimbang daerah mana yang bisa didatangi, mengapa tidak memilih ke Riau?

Mengapa Harus Memilih Riau?

Sebab di Riau Kita bisa melihat sebuah atraksi budaya turun-temurun yang sudah cukup langka dan terlupakan. Kemudian oleh Dinas Pariwisata Daerah Riau mencoba untuk melestarikan atraksi budaya tersebut supaya tetap ada hingga ke masa mendatang. Atraksi budaya yang dimaksud adalah Zapin Api yang merupakan atraksi memacu adrenalin seperti Debus dari Jawa Timur. Bedanya disini pemain membakar dirinya dengan berjalan diatas kobaran api yang dibuat dari susunan batok kelapa kering.

Adanya usaha pelestarian dari Dinas Pariwisata membuat wisatawan dari luar daerah dan luar negeri masih bisa menjumpainya. Pada pertengahan April lalu, tepatnya tanggal 16 April 2016 atraksi Zapin Api diselenggarakan di tepi pantai kawasan Bengkalis. Atraksi ini berada di Desa Tanjung Medang dan direncanakan akan menjadi atraksi budaya tahunan. Zapin Api sendiri merupakan salah satu jenis tarian tradisional yang dilakukan oleh kaum pria warga setempat.

Tetabuhan berbagai instrumen musik tradisional sudah bisa didengarkan saat pemuda yang terlibat atraksi ini menyiapkan api di tepi pantai. Pemuda akan mengumpulkan kulit kelapa atau batok kelapa kering dan disusun supaya nyala api terjaga dengan baik. Batok kelapa yang sudah kering akan memudahkan api untuk merembet dari satu batok ke batok lain dengan bantuan angin laut. Ketika api sudah jadi dan asap mulai mengepul, lelaki yang bertelanjang dada mulai membentuk sebuah lingkaran.

Mereka mengelilingi sebuah kemenyan yang dibakar sehingga seketika muncul suasana mistis dari aroma kemenyan yang menguar. Dalam tarian adat ini terdapat satu orang pemimpin atau disebut sebagai Khalifah yang merapal doa-doa. Seketika satu per satu pemuda yang berkeliling di bakaran kemenyan berdiri dengan tatapan kosong seperti orang kesurupan atau in trance. Mereka menari dengan gerakan yang terlihat kaku namun mengikuti irama tetabuhan yang berbunyi sangat nyaring dan keras.

Selang beberapa lama semua pemuda tersebut sudah mulai memegang dan memainkan bara api yang sudah menyala sempurna. Kemudian tanpa menunjukkan rasa sakit atau kepanasan mereka mulai menari-nari di atas tumpukan bara api. Rapalan doa dari Khalifah tetap dapat dilihat dengan jelas hingga beberapa lama sampai tarian habis dimainkan oleh para pemuda tersebut. Atraksi tersebut berjalan sekitar 5 menit saja namun sudah memberikan sebuah pemandangan yang memacu adrenalin dengan cepat.

Dahulu pada tahun 1940-an sampai 1980-an atraksi budaya ini tenar dan sering dipertunjukkan untuk acara hajatan, seperti pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Sayangnya semakin berkembangnya zaman masyarakat mulai berkenalan dengan organ tunggal yang lebih modern dan atraksi budaya ini meredup.

Bagaimana Cara Membedakan Suku Baduy Dalam & Luar?

Pernahkah Anda mendengar mengenai Suku Baduy? Suku yang bermukim di Jawa Barat ini memang merupakan salah satu suku yang cukup terkenal. Mereka terkenal karena memang cukup memiliki kontroversi yaitu suku yang cukup tertutup dengan dunia luar dan masih sangat jauh sekali dari teknologi. Miris memang mendengar hal ini di tengah perkembangan jaman yang sudah semakin maju dan sudah ada banyak orang yang sukses dan berhubungan dengan teknologi.

Jika mendengar mengenai suku ini bisa saja yang ada di otak kita adalah mengenai tertutupnya suku ini. Ternyata Suku Baduy terbagi menjadi 2 bagian yang memiliki perbedaan satu sama lain. Suku ini dibagi dalam Suku Baduy Dalam dan Suku Baduy Luar. Keduanya sama – sama tinggal di daerah Jawa Barat.

Suku Baduy Dalam

Memang belum banyak orang yang tahu bahwa sebenarnya suku ini terdapat suku bagian dalam yang mereka sebagian besar bermukim di daerah Kanekes tepatnya berada di kaki pegunungan Kendeng. Suku ini sering juga disebut sebagai Urang Kanekes karena memang wilayah tinggal mereka yang sering disebut sebagai wilayah Kanekes. Selain itu ada juga daerah Cikeusik, Cibeo dan Cikertawana yang merupakan wilayah atau desa utama tempat tinggal suku ini. Sementara itu untuk bahasa sehari – hari mereka menggunakan Bahasa Sunda yang juga menggunakan dialek Banten.

Terlepas dari ciri yang mereka miliki, mereka juga memiliki beberapa peraturan adat yang tidak bisa dilanggar. Berikut ini adalah beberapa peraturan yang cukup umum antara lain:

1. Tidak boleh menggunakan kendaraan.
2. Tidak boleh menggunakan peralatan elektronik.
3. Tidak diperbolehkan menggunakan alas kaki.
4. Pintu rumah yang harus menghadap ke selatan.

Suku Baduy Luar

Belum banyak informasi mengenai suku yang satu ini, tapi satu yang pasti bahwa suku ini tidak berbeda jauh dengan suku Baduy dalam. Hanya saja memang suku ini terkenal lebih modern dan juga sudah mau menerima teknologi salah satunya adalah karena mereka sudah mengenal mengenai adanya televisi. Selain itu ada juga dari mereka yang menerima orang luar yang berkunjung dan bahkan menerima mereka di rumahnya.

Perbedaan Baduy Dalam dan Luar

Mungkin belum banyak orang yang tahu mengenai perbedaannya. Pada dasarnya perbedaan ini terdapat pada ikat kepala yang mereka gunakan. Hanya dengan melihat ikat kepala mereka kita sudah bisa tahu apakah mereka Baduy dalam atau Baduy luar. Jika melihat yang menggunakan ikat kepala berwarna putih itu artinya mereka adalah suku Baduy dalam. Sementara untuk suku Baduy luar menggunakan ikat kepala berwarna biru yang sudah ada motif batiknya.

Hal ini memang sangat fundamental sekali sehingga tidak boleh dilanggar. Konon katanya jika ada yang melanggar misalkan suku Baduy luar menggunakan ikat kepala Baduy dalam bisa terjadi bencana atau bisa terjadi kualat. Biasanya perbedaan lain yang bisa dilihat adalah mereka Baduy luar cenderung menggunakan pakaian berwarna hitam. Tetapi Baduy dalam juga bisa menggunakan pakaian ini.

Memang dalam melakukan beberapa hal ini kita bisa bingung mengapa bisa terbagi menjadi dua, namun ini yang akan menjadi sebuah keunikan di Indonesia. Hal ini juga banyak dibahas dalam beberapa diskusi antara beberapa tokoh seperti sosiolog dan juga budayawan. Tidak lupa juga turut mengundang mereka yang merupakan perwakilan dari suku Baduy untuk bisa memaparkan gambaran yang terjadi pada daerahnya.

Kearifan Lokal Suku Baduy, Selaras dan Penuh Syukur dengan Alam

Suku Baduy yang berada di Banten adalah masyarakat yang bisa disebut suku asli paling populer bagi banyak orang Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Ini karena di samping kenyataan bahwa orang – orang Baduy sendiri tetap mempertahankan adat – istiadatnya yang masih asli, hampir semua orang Indonesia sudah pernah mendengar tentang suku yang masih hidup secara tradisional ini.

Karena masih mempertahankan keasliannya, kamu pasti juga bisa menebak bahwa orang Baduy secara sengaja tak mau dipengaruhi berbagai kemajuan modern yang sedang kamu nikmati sekarang ini. Tapi di balik itu, masyarakat Baduy memiliki banyak sekali kearifan lokal yang banyak di antaranya sudah dilupakan oleh orang – orang Indonesia yang modern. Apa saja kearifan lokal tersebut?

Kearifan Lokal Suku Baduy yang Patut Dipelajari

Kearifan lokal masyarakat Baduy mencakup tentang banyak hal, dari cara hidup hingga membuat rumah. Inilah yang dikatakan oleh orang – orang Baduy tentang hal tersebut:

1. Tentang pembuatan rumah:
• Rumah haruslah mempunyai kolong, karena jika tidur di bagian atas tanah, itu berarti hidup di dunia yang ada di bagian bawah.
• Penancapan tiang ke tanah tak langsung kontak langsung dengan bumi, tetapi menggunakan batu untuk menjadi perantara.
• Asap yang terjadi karena membakar kayu tidaklah mengganggu, tetapi justru menjadi cara untuk membersihkan rumah dari rayap.

2. Tentang lingkungan:
• Pohon tidak boleh ditebang seenaknya saja, apalagi kalau berada di kawasan hutan lindung. Ini demi keseimbangan alam, terutama menjaga sumber air di dalamnya.
• Tidak boleh membuka hutan lindung untuk berladang atau untuk berkebun.
• Meski harus menjaga diri agar bersih, penggunaan barang – barang seperti pasta gigi, shampoo, dan barang kimia lainnya dilarang karena akan mencemari lingkungan.

3. Tentang mata pencaharian:
• Kegiatan ekonomi hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari, serta hanya untuk kalangan sendiri. Materi yang berlebihan harus dihindari.
• Hasil panenan padi tak diperjualbelikan, tapi kerajinan seperti kain songket, tas tangan, buah – buahan, dan juga madu hutan boleh dijual untuk menjadi sumber penghasilan. Itu pun hanya secukupnya saja.

4. Tentang bertani:
• Karena sebagian besar masyarakat Baduy adalah petani, maka banyak aturan yang harus dipenuhi, termasuk saat ketika harus mengolah tanah, bercocok tanam, dan kemudian panenan. Semua dilakukan secara alami dan organik, tanpa adanya bahan kimia yang merusak lingkungan.
• Menjaga keselarasan dengan alam sekitar, sampai ketika ada hama, mereka tak membunuhnya, tapi hanya mengusir.
• Padi harus diberikan gratis, dan ketika ada yang kekurangan, warga harus saling bergotong – royong untuk mencukupinya.
• Lumbung penyimpanan padi sendiri terbuat dari bangunan dengan struktur yang alamiah.

5. Tentang pemerintahan:
• Setiap tahun, orang-orang Baduy melakukan seba, yaitu menghantarkan berbagai hasil bumi ke pemerintahan tempat Suku Baduy bermukim (sekarang ini Gubernur Banten) sebagai cara menjaga silaturahmi dan pernyataan terima kasih.

Orang – orang Baduy bukanlah suku yang terisolasi dari sekitarnya. Tapi mereka memang masih memegang teguh adat – istiadat yang disampaikan oleh leluhurnya, yang mementingkan keseimbangan antara diri dan alam semesta. Selama alam dipelihara dengan baik, maka alam pun akan menghasilkan apa yang kamu perlukan dengan secukupnya.

Selain itu, tradisi seba yang dilakukan oleh Suku Baduy juga menjadi bentuk penyadaran bahwa kita semua tidak bisa hidup sendiri. Pemerintah berperan besar dalam menjaga agar masyarakat Baduy tetap bisa menjalankan hidupnya, dan mereka pun menunjukkan rasa terima kasihnya dengan tradisi seba seperti yang diceritakan di atas.

Jadi, sudahkah kamu memetik ajaran dari kearifan lokal orang – orang Baduy tersebut?

Pengorbanan Warga Taiwan untuk Pulang ke Bangka Demi Tradisi Ceng Beng

Menjelang Ceng Beng akan ada banyak warna negara Taiwan yang mengusahakan pulang ke kampung halaman di Belinyu sebagai bentuk penghormatan kepada orangtua. Salah satunya adalah Ny Su Wey yang saat ini merupakan warga negara Taiwan dan lahir di Belinyu, Pulau Bangka Indonesia. Sayangnya keluarga yang hendak memperingati hari Ceng Beng kesulitan untuk pulang kampung setiap tahun. Kendala utamanya adalah dari segi biaya yang bisa dikatakan sangat mahal dan hanya beberapa orang yang bisa menikmati Ceng Beng setiap tahun.

Berkenalan dengan Tradisi Ceng Beng

Seperti pengakuan dari Ny Su Mey yang mengungkapkan bahwa pulang ke kampung halaman selama Ceng Beng tidak bisa dilakukan keluarganya setiap tahun. Disebabkan karena keterbatasan biaya dan mudik ke kampung halaman bisa menelan biaya hingga puluhan juta. Keluarga Ny Su Wey sendiri baru bisa pulang kampung untuk Ceng Beng setelah tiga tahun. Selama waktu tersebut keluarga beliau mengusahakan hidup sehemat mungkin supaya memiliki cukup dana untuk pulang ke Belinyu.

Tidak sedikit keluarga di Taiwan yang mencoba bertahan hidup dengan separuh dari total penghasilan bulanan. Sebab separuhnya lagi digunakan sebagai dana tabungan untuk pulang kampung supaya bisa menghormati keluarga di kampung halaman. Tahun ini merupakan tahun keberuntungan bagi Ny Su Mey yang merupakan warga di kawasan kota Tai Cung, Taiwan. Tahun ini beliau akan pulang kampung bersama suaminya Mr Hong, di tahun-tahun yang lalu beliau juga mengajak serta anak-anak.

Kini anak-anak keluarga Ny Su Mey sudah besar sehingga tidak memungkinkan untuk diajak serta, hingga memutuskan datang berdua saja bersama suami. Ada kelegaan tersendiri bisa menjalankan tradisi Ceng Beng setelah menunggu dua tahun lebih. Semua orang tentunya ingin melanjutkan tradisi Ceng Beng ini bersama keluarga besar sehingga mengusahakan pulang kampung. Seperti keinginan besar umat muslim untuk bisa pulang kampung merayakan lebaran bersama keluarga besar.

Tradisi Ceng Beng sendiri biasanya diisi dengan acara sembahyang bagi keluarga yang mendahului anggota keluarga lainnya. Kemudian juga bisa berkumpul bersama seluruh anggota keluarga yang selama sekian bulan terpisah karena berbagai hal, salah satunya karena pekerjaan di daerah atau kota lain hingga di luar negeri. Persiapan untuk bisa menikmati dan menjalankan tradisi Ceng Beng sendiri sudah dilakukan sejak awal tahun. Sebab biaya perjalanan seperti pembelian tiket pesawat dari Taiwan bisa mencapai 12 juta lebih, belum lagi ditambah biaya lain selama perjalanan dan berada di kampung halaman.

Ny Su Mey berada di kampung halaman tepatnya di Belinyu, sejak tanggal 23 Maret lalu kemudian berencana pulang ke Taiwan pada 13 April mendatang. Sebenarnya ada ribuan warga keturunan Tionghoa yang setiap tahun mengusahakan pulang ke Pulau Bangka demi tradisi Ceng Beng. Kebanyakan berasal dari luar negeri seperti Hong Kong, Taiwan, Singapura, dan bahkan beberapa juga berasal dari China. Kepulangan warga Tionghoa ini sudah mulai terjadi sejak tanggal 21 Maret, dan akan terus berdatangan hingga mendekati puncak Ceng Beng pada 4 April.

Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur, tradisi Ceng Beng sendiri ternyata manfaatnya dirasakan oleh sektor pariwisata di Indonesia. Sebab mayoritas warga Tinghoa yang pulang kampung juga menyempatkan diri untuk berlibur dan berbelanja. Pengaruh tradisi ini sangat besar hingga membuat harga tiket pesawat mencapai puncaknya pada hari Ceng Beng. Area pekuburan warga Tionghoa pun akan menjadi ramai sehingga rencananya ada pembagian bubur dan kopi secara gratis kepada peziarah.

Hasil Limbah Bambu Primadona Para Bule

Bambu atau dalam bahasa Jawa disebut juga dengan nama pring merupakan tumbuhan yang identik dengan negara China. Namun, tumbuhan yang juga banyak tumbuh di Indonesia ini memiliki alur pertumbuhan tang tercepat karena terdapat sistem rhizoma-dependen unik sehingga tidak heran jika dalam 1 hari, tumbuhan makanan panda ini dapat tumbuh hingga 24” atau 60 cm. Alhasil, tumbuhan yang dapat juga digunakan sebagai pagar rumah ini, digunakan sebagai bahan bangunan.

Akan tetapi, biasanya bambu yang sudah selesai digunakan, sisanya akan dibuang atau menjadi salah satu bahan bakar untuk memasak lantaran harga jual yang murah. Namun, di tangan seorang alumnus dari jurusan Desain ITB (Institute Teknologi Bogor) yang bernama Singgih Susilo, bambu dirancang dan dibuat menjadi sesuatu yang bernilai tinggi sehingga dapat menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.

Menurut Singgih, Bambu dapat bernilai jual tinggi jika ditangani di tangan orang yang tepat. Hasil dari olahan limbah bambu tersebut dapat dijual di beberapa tempat misalnya di pasar seni seperti yang ada di Pasar Papringan. Pasar yang berada di bawah rerimbunan bambu tersebut memiliki luas hingga 1.000 m2 dan digunakan tidak hanya untuk menjual berbagai macam produk seperti makanan, minuman, kerajinan dan souvenir namun juga digunakan untuk tempat pementasan seni seperti musik.

Hal yang unik di pasar ini adalah, jika kamu biasanya menggunakan uang resmi atau rupiah, entah dalam bentuk koin atau kertas, untuk membeli suatu barang, namun di tempat ini, Anda tidak menggunakan mata uang Rupiah. Uang yang kamu miliki, dalam bentuk rupiah, akan ditukarkan terlebih dahulu di stan yang ada di depan dan tengah pasar, karena di tempat ini menggunakan mata uang yang berbentuk potongan bambu.

Terdapat 2 jenis bentuk mata uang yaitu bulat dan kotak. Untuk bentuk bulat dan terdapat tulisan ’50 pring’ artinya nilai tersebut sebanding dengan Rp 5000. Jika berbentuk kotak dan terdapat tulisan 1 pring, artinya 1 pring sebanding dengan harga Rp 1000. Mata uang ‘pring’ tersebut dipapah halus dengan menggunakan bahan dasar bambu sehingga tidak melukai tangan.

Dari mata uang ‘pring’ tersebut, Kamu dapat membeli berbagai macam souvenir dan kerajinan tangan yang di jual di pasar seni ini. beberapa kerajinan tangan tersebut yaitu tas bambu dan keranjang bambu. Uniknya, pasar yang hanya dibuka setiap hari Minggu Wage atau setiap 36 bulan sekali yang berada di Temanggung, Jawa Tengah ini, baru 3 kali diselenggarakan namun sudah ramai pengunjung terutama yang berasal dari luar kota.

Tidak hanya dimanfaatkan oleh Singgih, namun bambu seperti bambu yang berada di Dusun Kelingan yang dijaga dengan baik, digunakan juga oleh Burhanudin yang berasal dari Kashmir, India. Pria yang menjadi alumnus dari NID atau National Institute of Desain, Gujarat, India, mengembangkan bambu dari Dusun Kelingan sejak Februari 2016. Hasilnya, Burhanudin mampu untuk membuat keranjang bambu yang dipadukan dengan batik kelingan.

Design dari bambu yang diproduksi oleh Singgih, tidak hanya menarik perhatian di Indonesia namun juga di Malaysia, Thailand, Jepang dan dilihat juga oleh wisatawan asal Amerika Serikat. Salah satu hasil kreasi dari Singgih adalah kursi redesign dan menjadi ikon dari perusahaan Santai Furniture, Jerman. Menurut Singgih, kursi yang berbahan jati yang dihargai Rp 7 juta tersebut, digunakan ketika festival buku yang diselenggarakan di Frankurt, Jerman. Singgih berharap jika pemerintah mampu memberikan perlindungan agar warga desa kreatif lewat seperangkat aturan.

Festival Songkran Segera Hadir di Jakarta, Catat Waktu dan Tempatnya

Jika dilihat, grafik kunjungan dari wisatawan asing ke Indonesia kian lama semakin tinggi hal ini merupakan buah dari serangkaian promosi yang dilakukan oleh pemerintah dalam negeri, tak hanya itu ternyata sebagian besar juga dikarenakan penyediaan fasilitas yang mulai ditingkatkan sehingga banyak yang tak enggan untuk mengunjungi Indonesia. Namun jika dilihat angka kunjungan untuk semua negara di Asia Pasifik, khususnya Indonesia masih kalah dengan beberapa destinasi wisata lainnya, diantaranya adalah Thailand.

Jangan salah, nyatanya negara yang memiliki julukan Gajah Putih ini memang tak memiliki banyak potensi wisata alam nan indah, namun pemerintah sangat pintar dalam membuat serangkaian acara yang dapat menarik perhatian wisatawan luar negeri, salah satunya adalah keberadaan beberapa sarana hiburan malam dan juga acara yang benar-benar bertajuk untuk anak muda seperti Songkran, nama yang satu ini memang masih sangat awam di telinga masyarakat Indonesia, namun patut untuk diketahui bahwa Songkran merupakan sebuah festival yang paling ditunggu di Thailand.

Festival yang sati ini identikan dengan perang air. Beberapa diantara Anda mungkin juga pernah menjumpainya di Taiwan, rumpun daerah tersebut memang tawarkan sebuah acara yang paling menarik bagi anak muda, dimana nantinya entah itu laki-laki maupun wanita bisa saling melempar air yang sebelumnya sudah dimasukkan dalam kantung mudah pecah warna-warni, tak hanya itu kamu juga bisa langsung menggunakan semprotan air atau ember disini, tak ada aturan khusus, kamu akan diajak untuk bergembira selama acara ini berlangsung.

Nah untuk yang penasaran bagaimana acara tersebut berlangsung sekarang tak perlu jauh-jauh datang ke Thailand, nyatanya Indonesia juga punya festival perang air semacam ini, tepatnya adalah di Jakarta. Acara yang satu ini diadakan di Lagoon Garden, khususnya adalah The Sultan Hotel anda Residence, ini merupakan acara Songkran yang pertama kali akan diadakan di Jakarta, tepatnya adalah tanggal 2 hingga 3 April nanti, rencananya akan didalam pada pukul 10.00 hingga selesai.

Nah bagi yang penasaran bagaimana keseruan Songkran pertama jangan ragu untuk mendaftarkan diri bersama dengan teman-teman, dijamin sangat mengasyikkan. Acara yang satu ini akan dilakukan persis seperti yang ada di Thailand, mengingat pembukaannya sendiri langsung dari Dubes Thailand, festival selesai nantinya kamu juga tak begitu saja meninggalkan lokasi dan pulang, namun akan banyak suguhan menggugah selera yang patut untuk kamu cicipi, diantaranya adalah kuliner khas Thailand.

Menariknya lagi selain menikmati acara Songkran atau perang air bersama dengan keluarga maupun teman-teman ditambah dengan sajian kuliner yang menggugah selera tersebut kamu pengunjung tak dipungut biaya sama sekali alis gratis. acara yang satu ini diadakan dengan tujuan khusus sebagai langkah promosi hotel juga sehingga pengunjung tak dipungut biaya, pastinya wajib untuk mencatat tanggal juga lokasi.

Songkran sendiri sebenarnya bukan hanya perang air tanpa makna yang diadakan oleh pemerintah Thailand, merupakan sebuah acara khusus yang digunakan guna mensucikan atau membersihkan patung Buddha, cara perayaan yang terbilang unik dengan tujuan untuk menghormati yang lebih tua, sehingga yang bermain memang hanya kalangan muda saja. Saat kamu berkunjung ke Thailand sendiri belum tentu merupakan saat tepat diadakan oleh festival ini, karena termasuk dengan jenis tahunan, hanya sekali dalam satu tahun, untuk itu kesempatan yang sudah ada, tanpa harus pergi jauh-jauh dan keluar banyak biaya jangan dilewatkan dengan datang ke Lagoon Garden.

Menyisipkan ‘Roh’ Modernitas di Pasar Papringan

Pasar merupakan tempat transaksi jual beli paling tradisional yang ada di Indonesia, hampir semua orang tentunya mengenal tempat yang satu ini, mengingat dulunya tempat transaksi memang dilakukan dari sini, namun seiring dengan berkembangnya zaman, banyak yang sudah melupakan konsep ini, umumnya pergi dan berbelanja ke pasar hanya dilakukan oleh kalangan menengah ke bawah saja, sedangkan untuk yang tingkat penghasilannya tinggi pasti lebih senang datang ke supermarket atau pusat perbelanjaan mewah.

Nah dari sekian banyak pasar tradisional yang ada di Indonesia beberapa diantaranya memang terbilang sangat menarik untuk dijadikan sebagai tempat wisata, salah satunya adalah pasar terapung yang ada di wilayah Kalimantan, dimana nantinya penjual dan pembeli akan melakukan transaksi dari atas sebuah perahu kecil di hamparan sungai yang memang sangat besar. Sebagian besar orang yang datang kesana nyatanya tak memiliki keinginan untuk berbelanja, melainkan lebih pada wisata, menikmati hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Konsep yang unik ternyata juga diterapkan pada sebuah pasar yang ada di daerah Jawa tengah, tepatnya berada di Kabupaten Temanggung, selama ini konsep pasar tradisional mungkin ada di dalam kawasan yang kumuh, becek pada saat hujan tiba atau kawasan yang paling ekstrim yaitu berada di atas perahu yang tengah mengambang, nah disini justru diciptakan sebuah model pasar baru dengan konsep berupa ekosistem alam, mendengar namanya saja tentunya yang akan ada di benak Anda dalah pasar yang ramah lingkungan bukan.

Pasar yang satu ini terbilang dadakan namun juga unik, karena memang hanya dibuka pada saat Minggu Wage, kepercayaan yang berhubungan dengan mistis masih sangat melekat kuat disini, sangat unik karena tak sembarangan waktu ada yang berjualan disini, mereka hanya mengikuti aturan yang ada dalam kalender Jawa, namun juga ada banyak hal yang dijadikan sebagai pantangan dalam transaksinya, seperti tak diperkenankan dalam mengucapkan kata-kata umpatan, kemudian juga berbohong karena masih sangat menjunjung adat istiadat bahkan ada penunggu di dalam kawasan tersebut.

Uniknya memang tak berada dalam sebuah ruangan terbuka atau juga kawasan yang padat penduduk, lokasi pasar yang satu ini ada di bawah sebuah hutan bambu, beberapa orang menyebutnya sebagai papringan, pasar yang satu ini memang mulai buka pada 10 Januari tahun 2015 lalu, namun mulai banyak pengunjung yang datang untuk secara langsung menyaksikannya, ini juga upaya untuk membuat warga masyarakat tak melupakan hal-hal yang sifatnya tradisional.

Kawasan yang memang dulunya sepi ini sengaja diberikan ‘roh’ modernitas agar lebih ramai dengan pengunjung. Namun juga jangan terlalu memikirkan penunggu atau tidak, nyatanya selama Anda mengikuti aturan yang ada tak akan ada sesuatu yang menganggu. Hal ini juga sengaja dilakukan untuk mendatangkan wisatawan ke daerah tersebut, nah bagi kamu yang ingin melihat secara langsung seperti apa transaksi yang dilakukan di pasar papringan ini maka datanglah pada Minggu Wage, khususnya di jam 07;00 pagi hingga 12;00 siang pasar ini buka.

Umumnya jenis barang yang dijual juga unik, diantaranya adalah hiasan yang terbuat dari kayu dan beberapa jenis aksesoris unik lainnya, tentunya hanya bisa kamu temukan disini, paling tidak dalam satu bulan ada 1 pasaran tersebut, selain menikmati transaksi jual beli kamu juga akan merasakan keindahan papringan tersebut, udaranya cukup sejuk dan juga hijau untuk memanjakan mata Anda.

Slogan Sehari Tanpa Kopi Dari Belitung

Seolah menjadi pemandangan yang biasa ketika melihat banyak orang menghabiskan waktu sembari menikmati seduhan kopi. Demikianlah pemandangan yang akan bisa dilihat saat berkunjung ke Bangka Belitung, sebab masyarakatnya seolah membudayakan minum kopi. Bahkan masyarakat setempat memiliki slogan “tiada hari tanpa kopi” seperti yang nampak di setiap sudut kota Belitung. Hampir semua orang memanfaatkan waktu luang berkunjung ke warung kopi terdekat.

Budaya Minum Kopi Masyarakat Belitung

Tidak mengherankan jika di Belitung terdapat dua warung kopi yang cukup terkenal dan sudah berusia puluhan tahun. Banyak orang berkunjung ke Warung Kopi Ake yang sudah berusia lebih dari 50 tahun menyediakan seduhan kopi tradisional. Disini Kita akan melihat banyak orang duduk di bangku yang disediakan warung sembari memesan secangkir kopi. Berbagai kegiatan pun terjadi di atas meja warung yang sederhana, mulai dari perbincangan hingga menikmati kudapan dan kopi itu sendiri.

Berbincang – bincang sebagai bentuk sosialisasi semakin terasa nikmat jika ditemani kopi, apalagi dilakukan di warung yang penuh nostalgia. Topik yang dibicarakan oleh pengunjung Warkop Ake cukup beragam, mulai dari masalah politik, sosial, hingga budaya setempat. Memang diakui oleh pemilik warung bahwa sejak masih dikelola oleh sang kakek, warkop ini menjadi destinasi berbincang ditemani kopi pilihan. Sebab di warkop inilah pengunjung bisa memesan kopi dalam seduhan hangat atau disajikan dingin bersama pecahan es batu.

Orang dahulu datang ke Warkop Ake untuk membahas mengenai masalah politik sebab belum mengenal koran seperti di zaman sekarang. Biasanya pelanggan yang datang merupakan guru atau para pejabat yang terbiasa minum kopi di pagi hari. Minum kopi di rumah tentu tidak bisa memberikan informasi menarik seperti jika minum di warung seperti ini. Sebab minimnya media informasi membuat kegiatan bertemu langsung, bercakap – cakap, dan tertawa bersama menjadi penting. Siapa sangka kebiasaan sederhana tersebut sampai sekarang masih berjalan dan bahkan seolah berubah menjadi budaya.

Pengunjung Warkop Ake pun tidak segan untuk mengeluarkan suara yang lantang sembari berbincang atau tertawa lepas. Suara perbincangan antara meja satu dengan meja lainnya membuat suasana di warkop tersebut selalu penuh warna. Keramaian pengunjung pun seolah mengajak gemuruh lalu lintas di sekitar Tugu Satam untuk bersaing siapa yang paling riuh. Kadang kala perbincangan pelanggan membahas hal sepele dan ringan kadang pula berat seperti isu pemisahan diri wilayah Belitung dari Sumatera Selatan.

Hal serupa pun terjadi di Warung Kopi Kong Djie yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Warkop Ake, tepatnya di Persimpangan Jalan Kemuning. Keramaian pelanggan yang datang untuk menikmati kopi khas yang diolah secara tradisional. Membuat kondisi warkop selalu dipenuhi sampah puntung rokok sebab mayoritas menikmati kopi sambil menyesap rokok. Bagi pemilik, yaitu Ishak Holidi, warung kopi menjadi tempat yang ideal untuk saling bertukar informasi. Macam informasinya pun beragam, mulai dari soal keluarga, ekonomi, bisnis, dan juga menjalar kepada topik politik.

Seorang pemerhati sejarah Belitung, yakni Salim Yan Albert Hoogstad, budaya minum kopi oleh masyarakat Belitung sudah ada sejak jaman Belanda. Penduduk lokal pada masa tersebut ketika bertamu ke rumah Belanda sering disuguhi secangkir kopi. Apalagi zaman tersebut kopi merupakan minuman para bangsawan berdarah biru, sehingga menjadi simbol status sosial. Keberadaan Warung Kopi Ake dan Kong Djie yang sudah ada sejak jaman Belanda. Membuat budaya tersebut semakin kuat dan masih terjaga hingga sekarang.