Kearifan Lokal Suku Baduy, Selaras dan Penuh Syukur dengan Alam

Suku Baduy yang berada di Banten adalah masyarakat yang bisa disebut suku asli paling populer bagi banyak orang Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Ini karena di samping kenyataan bahwa orang – orang Baduy sendiri tetap mempertahankan adat – istiadatnya yang masih asli, hampir semua orang Indonesia sudah pernah mendengar tentang suku yang masih hidup secara tradisional ini.

Karena masih mempertahankan keasliannya, kamu pasti juga bisa menebak bahwa orang Baduy secara sengaja tak mau dipengaruhi berbagai kemajuan modern yang sedang kamu nikmati sekarang ini. Tapi di balik itu, masyarakat Baduy memiliki banyak sekali kearifan lokal yang banyak di antaranya sudah dilupakan oleh orang – orang Indonesia yang modern. Apa saja kearifan lokal tersebut?

Kearifan Lokal Suku Baduy yang Patut Dipelajari

Kearifan lokal masyarakat Baduy mencakup tentang banyak hal, dari cara hidup hingga membuat rumah. Inilah yang dikatakan oleh orang – orang Baduy tentang hal tersebut:

1. Tentang pembuatan rumah:
• Rumah haruslah mempunyai kolong, karena jika tidur di bagian atas tanah, itu berarti hidup di dunia yang ada di bagian bawah.
• Penancapan tiang ke tanah tak langsung kontak langsung dengan bumi, tetapi menggunakan batu untuk menjadi perantara.
• Asap yang terjadi karena membakar kayu tidaklah mengganggu, tetapi justru menjadi cara untuk membersihkan rumah dari rayap.

2. Tentang lingkungan:
• Pohon tidak boleh ditebang seenaknya saja, apalagi kalau berada di kawasan hutan lindung. Ini demi keseimbangan alam, terutama menjaga sumber air di dalamnya.
• Tidak boleh membuka hutan lindung untuk berladang atau untuk berkebun.
• Meski harus menjaga diri agar bersih, penggunaan barang – barang seperti pasta gigi, shampoo, dan barang kimia lainnya dilarang karena akan mencemari lingkungan.

3. Tentang mata pencaharian:
• Kegiatan ekonomi hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari – hari, serta hanya untuk kalangan sendiri. Materi yang berlebihan harus dihindari.
• Hasil panenan padi tak diperjualbelikan, tapi kerajinan seperti kain songket, tas tangan, buah – buahan, dan juga madu hutan boleh dijual untuk menjadi sumber penghasilan. Itu pun hanya secukupnya saja.

4. Tentang bertani:
• Karena sebagian besar masyarakat Baduy adalah petani, maka banyak aturan yang harus dipenuhi, termasuk saat ketika harus mengolah tanah, bercocok tanam, dan kemudian panenan. Semua dilakukan secara alami dan organik, tanpa adanya bahan kimia yang merusak lingkungan.
• Menjaga keselarasan dengan alam sekitar, sampai ketika ada hama, mereka tak membunuhnya, tapi hanya mengusir.
• Padi harus diberikan gratis, dan ketika ada yang kekurangan, warga harus saling bergotong – royong untuk mencukupinya.
• Lumbung penyimpanan padi sendiri terbuat dari bangunan dengan struktur yang alamiah.

5. Tentang pemerintahan:
• Setiap tahun, orang-orang Baduy melakukan seba, yaitu menghantarkan berbagai hasil bumi ke pemerintahan tempat Suku Baduy bermukim (sekarang ini Gubernur Banten) sebagai cara menjaga silaturahmi dan pernyataan terima kasih.

Orang – orang Baduy bukanlah suku yang terisolasi dari sekitarnya. Tapi mereka memang masih memegang teguh adat – istiadat yang disampaikan oleh leluhurnya, yang mementingkan keseimbangan antara diri dan alam semesta. Selama alam dipelihara dengan baik, maka alam pun akan menghasilkan apa yang kamu perlukan dengan secukupnya.

Selain itu, tradisi seba yang dilakukan oleh Suku Baduy juga menjadi bentuk penyadaran bahwa kita semua tidak bisa hidup sendiri. Pemerintah berperan besar dalam menjaga agar masyarakat Baduy tetap bisa menjalankan hidupnya, dan mereka pun menunjukkan rasa terima kasihnya dengan tradisi seba seperti yang diceritakan di atas.

Jadi, sudahkah kamu memetik ajaran dari kearifan lokal orang – orang Baduy tersebut?

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.