Kisah Sejarah Dari Makam Pendiri Kota Solo Ki Gede Sala yang Melegenda

Dalam istilah Jawa, Kuncen adalah penjaga makam yang nantinya bertugas mengkondisikan area makam agar senantiasa bersih. Sari Dewi Susanti adalah Kuncen dari Ki Gede Sala yang beralamat di Ndalem Mloyokusuman RT 001/012, Baluwarti, Surakarta, Jawa tengah. Atau lebih tepatnya ialah di dalam kompleks keraton Kasunanan Surakarta. Makam ini merupakan salah satu makam yang ramai didatangi oleh para peziarah yang mempunyai keyakinan yang begitu sakral.

Makam ini selalu ramai dengan para peziarah yang datang dari lokasi dalam kota maupun luar kota sekalipun. Para pengunjung datang tak menentu dari waktu pagi, siang, sore bahkan malam sekalipun. Hari-hari biasa maupun liburan tak menjadi pengaruh, dan para peziarah pun selalu berdatangan entah itu dari kota dekat maupun jauh. Pada malam selasa kliwon dan jumat kliwon adalah malam dengan kunjungan peziarah yang paling banyak dibandingkan hari-hari biasanya.

Para peziarah pun percaya bahwa dengan berziarah ke makam Ki Gede Sala akan memperoleh berkat. Di samping itu, di sisi makam Ki Gede Sala terdapat makam lain atas nama Kiai Carang dan Nyai Sumedang. Dalam ziarah tersebut, para peziarah memiliki kebiasaan masing-masing, seperti menabur bunga, memanjatkan do’a dan lain-lainnya. Makam yang disakralkan ini diyakini oleh para pengunjung memberikan berkah tersendiri, sehingga para peziarah yang datang tak sedikit yang mengajukan do’a dan harapan baik.

Makam Ki Gede Sala memang menjadi makam yang seringkali didatangi oleh para peziarah dari berbagai tempat. Bahkan, para peziarah itupun bukan hanya masyarakat biasa tetapi juga para pihak yang berstatus seperti pejabat negeri. Para wisatawan religius yang berkunjung rela datang dari jauh-jauh untuk berziarah ke makam Ki Gede Sala. Siapakah beliau?

Ki Gede Sala seringkali disebut sebagai pendiri kota Solo ini dan sesepuh atau orang terpercaya di Keraton Kasunanan Surakarta. Menurut Sari Dewi Susansi selaku Kuncen dari makam yang disakralkan ini, menuturkan bahwa Surakarta pada era dulu adalah rawa, dan Ki gede Sala ialah sosok yang telah mengeringkannya. Barulah selepas itu, Paku Buwono II dari Kartasura berpindah ke Desa Sala, tepatnya di tahun 1745 hingga sekarang ini.

Sang Kuncen menuturkan bahwa makan Ki Gede sala telah dikunjungi oleh banyak peziarah. Dari warga sekitar Solo hingga luar Surakarta yang notabene berasal dari kota jauh. Tak luput pula dari kunjungan ziarah dari para pejabat dan petinggi negeri. Hal ini tak hanya sekali dan cukup sering ditemui meskipun tak datang secara bersamaan. Adapun pihak-pihak bersangkutan seperti:

• Almarhum Soeharto (semasa beliau masih hidup),
• Letjen (Purn) Sarwo Edhi Wibowo,
• Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, dan lain-lainnya.

Tak hanya para pejabat tersebut saja Pemerintah Kota Solo pun melakukan ziarah ke makam secara teratur yakni setiap memperingati hari kelahiran kota Surakarta ini. Kemudian juga di bulan Februari para pejabat tinggi di Pemerintah Kota Surakarta melakukan ziarah secara kompak tanpa terkecuali, entah itu para ketua hingga wakil ketua.

Dalam kunjungan ziarah ini, Pemerintah Kota sendiri tak hanya membawa bunga yang ditaburkan di atas makam, tetapi juga memanjatkan do’a. Selain itu, napak tilas juga dilakukan, yang mana kegiatan ini telah dimulai sejak wali kota Solo yang pertama hingga sekarang ini. Sehingga menjadi sebuah tradisi yang diaplikasikan secara turun menurun sedari masa silam sampai sekarang ini.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.