Atraksi Mistis di Riau yang Mulai Meredup Namun Merupakan Atraksi Budaya Terbaik

Ragam kebudayaan bangsa Indonesia memang beragam, dan menjadi salah satu kebanggaan Kita di mata dunia. Wisatawan yang datang selain ingin menikmati keindahan obyek wisata yang didatangi juga tertarik melihat atraksi budaya di masing-masing daerah. Wisatawan mancanegara biasanya menjadi pengunjung yang sangat antusias untuk melihat atraksi khas tersebut. Maka tidak mengherankan jika Pulau Bali yang sarat akan atraksi budaya mampu menyedot ribuan wisatawan asing untuk datang.

Perlu diakui bahwa selain Pulau Bali, setiap daerah memiliki atraksi khas dan unik dan mengandung makna yang tinggi. Artinya masing-masing daerah memiliki potensi untuk menggaet kunjungan wisatawan, baik lokal maupun internasional. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang berasal dari luar daerah penasaran dengan atraksi unik di daerah lain. Sehingga menyempatkan waktu menyusun jadwal kunjungan ke daerah tersebut untuk melihat secara langsung. Bagi yang tengah menimbang daerah mana yang bisa didatangi, mengapa tidak memilih ke Riau?

Mengapa Harus Memilih Riau?

Sebab di Riau Kita bisa melihat sebuah atraksi budaya turun-temurun yang sudah cukup langka dan terlupakan. Kemudian oleh Dinas Pariwisata Daerah Riau mencoba untuk melestarikan atraksi budaya tersebut supaya tetap ada hingga ke masa mendatang. Atraksi budaya yang dimaksud adalah Zapin Api yang merupakan atraksi memacu adrenalin seperti Debus dari Jawa Timur. Bedanya disini pemain membakar dirinya dengan berjalan diatas kobaran api yang dibuat dari susunan batok kelapa kering.

Adanya usaha pelestarian dari Dinas Pariwisata membuat wisatawan dari luar daerah dan luar negeri masih bisa menjumpainya. Pada pertengahan April lalu, tepatnya tanggal 16 April 2016 atraksi Zapin Api diselenggarakan di tepi pantai kawasan Bengkalis. Atraksi ini berada di Desa Tanjung Medang dan direncanakan akan menjadi atraksi budaya tahunan. Zapin Api sendiri merupakan salah satu jenis tarian tradisional yang dilakukan oleh kaum pria warga setempat.

Tetabuhan berbagai instrumen musik tradisional sudah bisa didengarkan saat pemuda yang terlibat atraksi ini menyiapkan api di tepi pantai. Pemuda akan mengumpulkan kulit kelapa atau batok kelapa kering dan disusun supaya nyala api terjaga dengan baik. Batok kelapa yang sudah kering akan memudahkan api untuk merembet dari satu batok ke batok lain dengan bantuan angin laut. Ketika api sudah jadi dan asap mulai mengepul, lelaki yang bertelanjang dada mulai membentuk sebuah lingkaran.

Mereka mengelilingi sebuah kemenyan yang dibakar sehingga seketika muncul suasana mistis dari aroma kemenyan yang menguar. Dalam tarian adat ini terdapat satu orang pemimpin atau disebut sebagai Khalifah yang merapal doa-doa. Seketika satu per satu pemuda yang berkeliling di bakaran kemenyan berdiri dengan tatapan kosong seperti orang kesurupan atau in trance. Mereka menari dengan gerakan yang terlihat kaku namun mengikuti irama tetabuhan yang berbunyi sangat nyaring dan keras.

Selang beberapa lama semua pemuda tersebut sudah mulai memegang dan memainkan bara api yang sudah menyala sempurna. Kemudian tanpa menunjukkan rasa sakit atau kepanasan mereka mulai menari-nari di atas tumpukan bara api. Rapalan doa dari Khalifah tetap dapat dilihat dengan jelas hingga beberapa lama sampai tarian habis dimainkan oleh para pemuda tersebut. Atraksi tersebut berjalan sekitar 5 menit saja namun sudah memberikan sebuah pemandangan yang memacu adrenalin dengan cepat.

Dahulu pada tahun 1940-an sampai 1980-an atraksi budaya ini tenar dan sering dipertunjukkan untuk acara hajatan, seperti pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Sayangnya semakin berkembangnya zaman masyarakat mulai berkenalan dengan organ tunggal yang lebih modern dan atraksi budaya ini meredup.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.