Berkunjung ke Sianjur Mula-Mula Menikmati Pesona Alam Sekaligus Silsilah Suku Batak

Desa Sianjur Mula-Mula adalah salah satu desa yang terletak di bagian barat Pangururan, Samosir, Sumatera Utara. Konon katanya masyarakat Batak pertama kali berasal dari pusuk buhit desa ini. Sianjur Mula-Mula sendiri sebenarnya merupakan 1 dari 9 desa yang ada di kecamatan Pulau Samosir. Disini Anda akan disuguhi pemandangan alam yang tak kalah menakjubkan, seperti mata air yang memiliki 7 rasa. Tak hanya itu, masyarakat sekitar pun meyakini sebuah peti batu atau hobbon keramat. Siapa saja yang berniat membuka peti itu, maka akan ada kesialan yang menimpa dirinya. Keindahan Desa Sianjur Mula-Mula dapat pula dinikmati dari atas kaki gunung Pusuk Buhit. Hamparan persawahan dan bukit hijau menjadikan suasana desa makin asri, nyaman dan semakin betah. Sayangnya di desa inipun masih banyak masyarakat yang fanatik akan asal-usul suku Batak. Mereka menganggap bahwa orang batak pertama bukanlah sekedar legenda, tetapi permulaan silsilah keluarga (tarombo).

Jika Anda datang kesini, jangan heran kalau masyarakat sekitar langsung menanyai apa marga Anda. Bila Anda masih memiliki marga dan keturunan Siraja Batak, mereka pasti akan langsung menyuruh Anda mengunjungi Sianjur Mula-Mula. Salah satu yang kerapkali menyambangi tempat ini adalah Deo Sagala, pengunjung bermarga Batak. Beliau mengaku memiliki daerah dan marga keturunan Siraja Batak yang berasal dari Sianjur Mula-Mula. Inilah rasanya yang membuat Beliau merasa tempat tersebut layaknya kampung halaman sendiri.

“Ada ikatan batin yang selalu membawa saya ingin pulang ke kampung halaman ini. Terutama bagi mereka yang memiliki keturunan marga, pasti merasa ada ikatan batin dengan desa ini. Tak salah kalau tiap pengunjung ditanyai apa marganya dan disambut betul kalau keturunan raja,” katanya. Deo pun menjelaskan ada kewajiban tersendiri bagi orang Batak untuk mengetahui silsilahnya. Hal ini dimaksudkan agar mereka mengetahui hubungan kekerabatan dalam falsafah suku Batak.

Deo juga menambahkan bahwa silsilah Batak sendiri berasal dari Siraja Batak. Ia memiliki 2 putra yang bernama, Tuan Doli dan Raja Isumbaon. Tuan Doli sendiri akhirnya memiliki 5 orang putra bernama, Raja Uti atau Raja Biakbiak, Saribu Raja, Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Silau Raja. Raja Uti (Raja Biakbiak) yang merupakan anak pertama Guru Tatea Bulan tidak memiliki keturunan. Sedangkan Saribu Raja sebagai anak kedua dianugerahi 2 anak dari 2 istri yang berbeda.

Istri pertamanya bernama Siboru Pareme yang melahirkan putra Raja Lontung. Sementara itu istri kedua bernama Nai Mangiring Laut dan melahirkan Raja Borbor. Dari Raja Lontung sendiri, lahirlah 7 orang putra yang diberi nama, Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Siregar, dan Borbor. Borbor sendiri membentuk rumpun persatuan suku Batak bernama Borbor dengan marganya, Harahap, Lubis, Pasaribu, Daulay, Batubara, Matondang, Prapat, Saruksuk, Sipahutar, Tarihoran, Hutasuhut, Tanjung, dan Pulungan.

Dari putra Lontung ini lahirlah begitu banyak marga lainnya yang digunakan hingga saat ini. Untuk putra ketiga Guru Tatea Bulan, Mulana Limbong sendiri kini masih menggunakan marga Limbong. Begitu pula halnya dengan Sagala Raja, anak keempat yang keturunannya bermarga Sagala. Berbeda dengan kedua kakaknya sebelumnya, Silau Raja sebagai anak bungsu menurunkan setidaknya 4 marga. Hingga saat ini, marga itu masih dikenal dengan Ambarita, Malau, Gurning dan Manik. Marga-marga inilah yang dirasa masih keluarga oleh masyarakat Batak di Sianjur Mula-Mula. Tak berlebihan kalau penyambutan warga desa pun sangat ramah kepada keturunan Siraja Batak. Namun hal berbeda terlihat dari para pengunjung yang tidak memiliki marga sedikitpun. Biasanya masyarakat tidak menyambut seramah mereka yang bermarga dan terkesan dicueki.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.