Category archive: Wisata Budaya

Kampung Tarung dengan Berbagai Keunikan Adat Istiadatnya

Jika selama ini kamu berkunjung ke daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur, mungkin kamu hanya mengenal satu destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi yaitu Pulau Moyo. Namun jangan salah, selain Pulau Moyo ternyata masih ada yang lebih menarik untuk kamu kunjungi ketika berkunjung ke daerah ini, diantaranya adalah sebuah desa yang masih sangat khas dengan adat istiadat mereka salah satunya adalah bangunan yang masih mereka gunakan. Lokasi nya berada di Kampung Tarung yang memiliki 38 rumah adat dan masih berdiri kokoh di kawasan ini.

Untuk kamu yang belum pernah mencoba wisata budaya, maka kawasan yang satu ini sangat cocok untuk kamu yang ingin mencoba wisata budaya dengan tarif yang cukup terjangkau. Kawasan nya terletak di Wakaikabubak dan dihuni tak lebih dari 27.000 jiwa. Meskipun angkanya yang relatif kecil tapi mayoritas penduduknya memiliki tempat tinggal yang terpencar – pencar. Tak hanya di kota besarnya saja melainkan hingga ke pegunungan memiliki keunikan tersendiri karena tiap kampung yang ada di kawasan ini masih mempertahankan adat istiadat mereka yaitu masih menggunakan bangunan asli. Di kawasan tersebut setidaknya ada 4 perkampungan yang sudah cukup terkenal di kalangan para wisatawan yaitu Kampung Tarung, Waitabar, Bodo Ede, dan Bodomaroto.

Jika kamu pertama kalinya menjejakkan kaki di salah satu kampung tersebut tentunya kamu akan beranggapan masyarakat disana masih sangat tradisional dan memegang teguh adat istiadat mereka, karena di bagian depan bangunan kamu akan melihat jajaran tanduk kerbau yang dipasang. Rumah adat yang terdapat disini jauh dari kesan modern karena bangunannya sendiri terbuat dari kayu asli yang pada bagian atapnya terbuat dari alang – alang sehingga terbebas dari gempa, belum lagi adanya makam yang dibangun di ruangan terbuka. Ornamen – ornamen dari rahang babi serta tanduk kerbau sedikit akan membuat kamu merasa sedikit ngeri, namun ternyata masyarakat yang tinggal di kawasan ini memiliki anggapan yang berbeda. Semakin banyak ornamen – ornamen yang dihias di dalam rumah maka semakin kian tinggi status sosial dan kedudukannya.

Nah, jadi kalau kamu melihat rumah yang ada di perkampungan tersebut ternyata memiliki hiasan rahang babi dan tanduk kerbau yang paling banyak maka bisa dikatakan mereka yang paling dihormati di kampung tersebut. Suasana yang dapat kamu rasakan di kampung tersebut pun jauh berbeda dengan suasana yang ada di kota – kota besar, namun bukan karena mereka masyarakat yang terisolasi akan tetapi pada kenyataannya di kawasan tersebut sudah banyak penduduk yang menggunakan televisi bahkan menggunakan ponsel sekalipun. Jadi bisa disimpulkan meskipun adat istiadat mereka masih ditegakkan tak dapat dipungkiri jika peradaban baru juga sudah mulai masuk ke dalamnya.

Kawasan ini sangat cocok untuk kamu yang menginginkan suasana wisata yang bebas dari hiruk – pikuk kota besar dengan berkunjung ke perkampungan ini, karena nyatanya sudah banyak wisatawan lokal hingga mancanegara yang berkunjung ke kawasan ini. Mayoritas penduduk sekitar memiliki mata pencaharian dengan mengandalkan hasil dari sawah dan perkebunan yang mereka miliki, beberapa diantaranya adalah membuat kain dengan bantuan alat tenun.

Meskipun dilihat dari berbagai sisi jika mayoritas masyarakatnya sangat jauh dari kesan modern, namun ternyata ada sisi positif dari keberadaan rumah yang dihuni yaitu tahan terhadap gempa. Rumah – rumah yang terdapat di kampung tersebut memiliki ciri – ciri yang sama dengan keberadaan rumah – rumah yang dibangun di Negara Jepang. Kayu asli yang dipakai membuat rumah tersebut bisa bertahan hingga ratusan tahun tanpa adanya perbaikan, kecuali mengganti bagian atapnya. Kampung tersebut tak sepenuhnya terisolasi, mengingat jika dilihat sebenarnya beberapa daerah di sekitarnya sudah cukup modern.

Berkunjung Ke Wilayah Kerajaan Terakhir di Pulau Timor, NTT

Indonesia merupakan Negara Kepulauan yang memiliki banyak pulau. Bahkan sebelumnya Indonesia diketahui memiliki banyak kerajaan yang sangat berjaya. Jika di kawasan Pulau Jawa terkenal dengan adanya Kerajaan Majapahit, maka di Pulau Timor Anda bisa menemukan Kerajaan Boti yang dipercaya sebagai sebuah Kerajaan di Pulau Timor. Kerajaan Boti sangat dipercaya dan masih berdiri hingga sekarang dengan masyarakat Boti didalamnya. Bagi Anda yang ingin mengenal lebih dekat dengan masyarakat Boti, berikut ulasannya:

Mengosongkan Kolom Agama
Mengosongkan kolom agama merupakan hal unik masyarakat Boti. Hal seperti ini bertujuan agar masyarakat Boti tetap mengingat dan menghargai kebudayaan dari leluhur mereka meskipun saat ini sudah memasuki era modern. Umumnya kolom agama di KTP masyarakat Boti itu masih dibiarkan kosong karena mereka masih tetap menjaga kepercayaan terhadap Para Dewa dan leluhur. Di dalam kehidupan masyarakat Hindu pastinya Anda mengenal sebutan Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan juga Dewa Siwa sebagai 3 Dewa utama, berbeda halnya dengan masyarakat Boti. Dalam kepercayaan masyarakat Boti, Uis Pah dan Uis Neno dikenal sebagai Dewa yang menaungi kehidupan masyarakat Boti.

Melarang Potong Rambut
Keunikan lainnya adalah adanya larangan untuk memotong rambut. Hal seperti ini masih berlaku di kalangan masyarakat Boti, karena memotong rambut tidak bisa sembarangan dilakukan untuk masyarakat yang juga dikenal sebagai sebuah kerajaan terakhir yang berada di Pulau Timor tersebut. Masyarakat Boti pun masih tetap menjaga tradisi tersebut. Mulai dari anak – anak hingga orang dewasa, seluruhnya masih mempercayai tradisi dari nenek moyang yang juga merupakan keluarga kerajaan Boti tersebut. Bahkan, hal itu telah diajarkan kepada anak – anak keturunan masyarakat Boti sedari dini. Seluruh nilai – nilai luhur juga masih terus dilestarikan di tengah perkembangan jaman yang terjadi.

Membatasi Sekolah Formal
Dalam hal pendidikan, pada dasarnya masyarakat Boti tak melarang adanya sekolah formal untuk anak – anak dari masyarakat Boti. Hanya saja, masyarakat Boti masih membatasi apabila anak – anak ingin bersekolah formal hingga tingkatan yang tinggi. Meski masih membatasi tingkatan sekolah formal untuk anak – anak, namun masyarakat tetap mendapatkan pendidikan untuk kehidupan yang lebih baik. Pembatasan terhadap sekolah formal tersebut bertujuan untuk menjaga keaslian nilai-nilai luhur yang ada pada masyarakat Boti. Para tetua ingin memastikan bahwa masyarakat Boti tetap menjaga seluruh tradisi dari nenek moyang yang juga merupakan para pendahulu di kerajaan yang kini disebut sebagai Kerajaan terakhir yang masih ada di Pulau Timor tersebut.

Membatasi modernisasi
Modernisasi masih sangat dibatasi di kalangan masyarakat Boti jadi tak hanya sekolah formal saja yang dibatasi karena penduduk setempat masih sangat menjaga adat istiadatnya. Beberapa kebudayaan baru juga sangat sulit untuk masuk ke dalam masyarakat Boti. Pembatasan itulah yang menjadikan seluruh tradisi masih kian terjaga dan menjadi sebuah warisan dari Bangsa Indonesia yang juga merupakan Bangsa dengan berbagai kebudayaan yang menyatu dan dapat terus membaur dengan toleransi yang tinggi. Keindahan tradisi yang berbaur dengan eksotisme Pulau Timor membuat masyarakat Indonesia harus kian menyadari untuk menjaga seluruh warisan budaya di Indonesia, termasuk Kerajaan terakhir di Pulau Timor yang disebut dengan Kerajaan Boti.

Suka Mengoleksi Kain Batik? Lengkapi Koleksimu dengan Batik Dari Tanah Liat Ini

Batik merupakan salah satu Warisan Budaya Dunia yang dimiliki oleh Indonesia dan sudah diakui oleh UNESCO. Bagi masyarakat Indonesia, batik sendiri merupakan ikon setiap daerah yang masing – masing memiliki batik khas. Ketika meluangkan waktu untuk mengunjungi beberapa daerah maka Kita akan bertemu dengan banyak jenis batik. Batik sendiri merupakan kain yang lebar dan panjang yang memiliki pola dari tulisan tangan yang sifatnya tradisional.

Continue reading

Sensasi Baru Belajar Pembuatan Senjata Tradisional Selama Liburan

Kini berkunjung ke tempat wisata tidak hanya bisa dilakukan dengan sekedar bersenang-senang dan berfoto – foto saja, namun saat sekarang ini kegiatan wisata memang semakin beragam sehingga memanjakan bagi siapa saja yang hendak berwisata. Selain banyak lokasi yang menarik ternyata ada beberapa tempat wisata yang sifatnya lebih edukatif. Menghabiskan liburan tidak harus menghabiskan tabungan namun bisa menikmati kegiatan yang bermanfaat. Berlibur sambil belajar bisa menjadi pengganti rutinitas liburan yang terasa menjemukan.

Belajar di Sentra Kerajinan Tradisional

Bagi yang merasa memerlukan sensasi baru dalam liburan bisa berkunjung ke Dusun Banyusumurup yang merupakan sentra kerajinan senjata tradisional. Dusun Banyusumurup sendiri berada di Desa Girirejo, Bantul, DIY Yogyakarta. Memang sudah sejak lama kawasan yang satu ini selalu menjadi magnet bagi wisatawan bahkan turis asing tak segan menjelajahi Kota Pelajar ini. Selain kaya obyek wisata yang seru dan indah, Yogyakarta juga menyajikan lokasi wisata yang edukatif. Pilihannya pun banyak, dan salah satunya berkunjung ke Dusun Banyusurup di Bantul, Yogyakarta.

Datang kesini sangat cocok bagi siapa saja yang tertarik untuk belajar dan melihat langsung pembuatan kerajinan tradisional. Mengajak anak – anak juga menjadi pilihan yang cukup cerdas untuk menanamkan kecintaan pada budaya tanah air. Banyusumurup memang sudah lama dikenal sebagai pusatnya kegiatan pembuatan kerajinan tradisional. Disini para pengunjung bisa melihat kerajinan apa saja yang sudah ada sejak zaman dulu, dan menjadi warisan leluhur. Disini pula pengunjung bisa melihat langsung pembuatan senjata tradisional yang diakui UNESCO yakni keris.

Keris merupakan senjata tradisional sejak zaman kerajaan besar masih memegang kekuasaan di berbagai wilayah di nusantara. Konon pembuatan keris hanya bisa dilakukan oleh orang – orang pilihan sehingga mampu menciptakan keris yang maha dahsyat. Seiring berjalannya waktu keris seolah mulai tersisihkan mengingat senjata tergantikan dengan yang lebih modern. Terlebih proses pembuatan yang panjang dan rumit membuat pengrajinnya semakin langka saja. Maka tatkala singgah ke Banyusumurup Kita bisa melihat lagi proses pembuatan keris.

Sebagai senjata keris ternyata dibuat dengan beberapa bagian yang berbeda, dan bagian utamanya adalah bilah keris. Bilah keris dibuat dari logam pilihan yang kemudian di tempa sedemikian rupa agar menjadi tajam dan membuat keris sebagai senjata mematikan. Selain itu juga terdapat bagian lain seperti warangka, dedek, pendok, dan juga mendak. Bagian warangka merupakan sarung yang membungkus dan melindungi senjata tradisional tersebut. Sarung keris ini terbuat dari kayu dan biasanya memakai kayu pohon sonokeling, timoho, asem, dan cendana.

Sementara untuk bagian deder merupakan pegangan dari keris itu sendiri yang juga menjadikan keris sebagai senjata yang artistik. Deder pun terbuat dari kayu pilihan, dan secara umum memakai kayu dari pohon yang sama untuk membuat warangka. Bagian lain juga terdapat mendak, bentuknya seperti cincin yang terletak diantara deder dan bilah keris. Sementara untuk pendok merupakan hiasan yang melekat pada warangka sehingga memperindah sarung keris tersebut.

Pembuatan pendok ternyata tidak boleh sembarangan ada pakem tersendiri yang harus dipatuhi oleh pembuatnya. Pendok sendiri bisa bergaya Solo atau Yogyakarta yang masing-masing memiliki motif yang berbeda dan menjadi ciri khas. Kerumitan motif dan pemilihan bahan baku yang sesuai membuat proses pembuatan keris secara utuh memakan waktu yang panjang, per bagiannya bahkan membutuhkan waktu berhari – hari terutama untuk bilah keris dan pendok. Tidak heran jika kerajinan senjata tradisional ini juga dikenal cukup mahal, paling murah Rp 75.000 dan beberapa bisa ratusan hingga jutaan.

Kunjungi Benteng yang Menjadi Magnet Turis Asing di Nusa Tenggara Timur!

Menikmati liburan atau memuaskan keinginan untuk menjelajahi Indonesia dan mengunjungi banyak tempat menarik mungkin akan terasa semakin menyenangkan dan berarti jika meluangkan waktu melihat langsung  obyek wisata budaya di kawasan Timor Tengah Selatan. Sejarah negara Indonesia yang pernah disinggahi bahkan berada di bawah kekuasaan bangsa asing membuatnya memiliki banyak lokasi bernilai sejarah, dan beberapa merupakan tempat bersejarah yang dibuat oleh para pejuang.

Continue reading

Souvenir Aceh Indah dan Mempesona

Kapal Pesiar Artania bendera Bermuda ini kembali merapat ke pelabuhan CT3 Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) untuk kedua kalinya. Kali ini Kapal pesiar Artania membawa 700 penumpang dan 500 awak kapal. Sesampai kapal pesiar ini sampai disambut oleh tarian tradisional Aceh yaitu tari Guel dan diberikan pengalungan bunga kepada kapten kapal pesiar Artania oleh Waka BPKS Irwan Faizal. Penumpang kapal pesiar Artania ini berasal dari berbagai Negara dan mereka sangat Antusias dalam membeli berbagai macam souvenir khas Aceh.

Continue reading

Apakah Suku Baduy Bisa Mengenal Teknologi?

Kita yang mengetahui mengenai ciri khas suku Baduy yang tidak bisa mengenal teknologi mungkin akan sangat bingung ketika membaca judul ini karena memang suku ini sangat jauh sekali dengan kata teknologi. Akan tetapi pada dasarnya suku ini perlahan sudah mulai mengalami perubahan dan juga sudah semakin berkembang pastinya. Hal ini juga yang perlahan harus bisa diterima oleh suku tersebut karena memang teknologi memang sangat berkembang dan juga harus bisa diikuti.

Continue reading

Dari Durian Merah Sampai Ritual Petik Laut, Ini Berbagai Acara Wisata di Banyuwangi

Kamu pasti sudah tahu bahwa keragaman budaya dan banyaknya sumber daya alam di Indonesia adalah kombinasi yang nyaris sempurna untuk membuat suatu daerah menjadi kawasan wisata. Ini semua jelas memerlukan usaha dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintahannya dan masyarakatnya sendiri. Salah satunya adalah dengan mengadakan berbagai festival budaya yang mengundang banyak pengunjung.

Berbicara tentang perkembangan wisata yang sangat cepat dan menguntungkan daerahnya, kamu perlu menengok Kabupaten yang ada di Jawa Timur ini, yaitu Banyuwangi. Kota yang dulunya cuma jadi kota numpang lewat buat banyak orang, sekarang ini justru menjadi daerah tujuan wisata yang utama. Bahkan Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman Indonesia, bilang kalau kota ini bisa jadi contoh bagi banyak tempat lain. Ini jelas pujian yang tidak main – main.

Tapi mendengarnya akan membuat menjadi penasaran. Apa sih yang ditawarkan oleh Banyuwangi dalam soal wisata? Buat yang ingin tahu, simak saja yang di bawah ini!

Berbagai Macam Festival dan Pameran

Daya tarik terbesar dari Banyuwangi adalah kulinernya dan hasil alamnya yang sangat beragam. Ingat durian merah? Buah yang satu ini itu dibudidayakan di Banyuwangi sejak zaman Majapahit dulu, dan sekarang sudah menjadi salah satu kuliner yang sangat terkenal di kawasan tersebut.

Tapi Banyuwangi tak melulu soal durian merah. Buah tersebut cuma salah satu dari rangkaian agenda festival yang diadakan di Banyuwangi. Kalau kamu kebetulan berkunjung ke sini, ini beberapa festival yang nggak boleh kamu lewatkan:

1. Festival Kuliner
Festival ini resmi berumur 3 tahun di tahun 2016. Kali ini, temanya adalah sego cawuk, yaitu makanan khas dari Banyuwangi yang jadi sarapan favorit penduduknya. Isinya nasi dicampur jagung muda yang diserut dan dibakar, kuah santan dari parutan kelapa, dan kuah dari ikan pindang. Untuk lauknya, ada telur pindang, pepes ikan, semanggi sambal serai, dan tahu cacah.

2. Banyuwangi Agro Expo
Di sini, kamu bakal bisa melihat, mencicipi, dan juga membeli berbagai macam produk hortikultura andalan dari Banyuwangi. Durian merah sudah pasti ada, tapi selain itu juga ada jagung, kedelai, berbagai macam cabai, terung, kubis, dan berbagai macam hasil bumi organik dan tanaman biofarma ada di sini.

3. Petik Laut Muncar
Lebih merupakan ritual budaya daripada festival, ritual yang dilakukan di Muncar, Desa Sumberagung. Tempat ini adalah tempat untuk pelelangan ikan yang paling besar di Indonesia, di mana ritual berlangsung sampai 3 hari. Pengajian dengan membaca Surat Yaasin serta Tahlil, membaca Al-Quran sampai khatam, dan akhirnya melarung sesaji ke laut dalam perahu – perahu kecil adalah acaranya. Ini juga ditambah dengan berbagai tarian tradisional dari Suku Osing asli Banyuwangi.

4. Tour de Banyuwangi Ijen
Kejuaraan balap sepeda berkelas internasional yang bakal bisa disaksikan dari November sampai Desember. Acara ini dilaksanakan di Gunung Ijen yang juga terkenal dengan kawahnya yang indah tersebut. Ini tentu saja sekalian promosi wisata alam di Banyuwangi.

5. Banyuwangi Ethno Carnival
Karnaval busana yang memperlihatkan berbagai kreasi kostum berwarna – warni yang merupakan kombinasi budaya lokal dan juga modern. Temanya pun bermacam – macam, seperti Barong, penari Seblang, dan juga kostum serta adat pengantin tradisional.

Totalnya ada sekitar 53 festival yang diadakan untuk tahun 2016 di Banyuwangi, yang dimulai dari awal tahun. Temanya juga berbeda – beda, dari festival untuk olahraga, kuliner, sampai berbagai festival budaya. Bahkan juga ada Banyuwangi Jazz Festival, lho! Rugi kalau kamu melewatkannya.

Mendalami Arti Dari Katto Bokko

Indonesia memang tidak pernah lepas dari sejumlah budaya yang memang akan membawa negeri ini menjadi salah satu tempat yang memiliki jutaan budaya. Pernahkah Kamu mendengar apa itu “Katto Bokko”? Ini merupakan sebuah tradisi yang ada di Tanah Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bisa dibayangkan jika dalam sebuah kabupaten saja ada sebuah tradisi bagaimana dengan kabupaten yang lainnya.

Tradisi ini erat sekali kaitannya dengan padi atau sawah yang memang akan membuat sekitar warga semakin sejahtera. Alasan mengadakan pesta ini adalah karena adanya padi langka yang menjadi bintang utama dalam tradisi ini. Katto Bokko sendiri memiliki sebuah arti yaitu ‘Panen padi berikatan besar’. Panen dan tradisi ini sendiri diadakan di Kerajaan Adat Marusu yang sudah merupakan sebuah tradisi yang turun temurun di jalankan.

Baru-baru ini pihak kerajaan juga mengadakan tradisi ini tepatnya pada hari Minggu 20 Maret 2016. Tentu saja ini merupakan sebuah pesta yang besar yang ada di kawasan kerajaan ini yang mengundang hampir seluruh warga untuk bisa berpartisipasi dan bisa membuat perayaan ini semakin penuh.

Rangkaian Katto Bokko

Pada awalnya pesta ini dimulai dengan adanya doa dan silaturahmi yang diadakan satu malam sebelumnya dimana pada doa ini juga dihadiri oleh semua warga yang ada. Barulah pada keesokan harinya rangkaian acara kembali diadakan dengan mengadakan panen padi dengan varietas terbaik yang ada.

Padi yang biasanya dipanen pada acara ini adalah padi varietas lokal yang biasa disebut juga dengan ase lapang. Padi jenis ini memang yang terbaik yang ada di kawasan ini namun saat ini memang sudah sering tergeser dengan adanya padi lain yang berasal dari pembuatan modern. Sehingga ini membuat ase lapang saat ini sudah semakin sulit untuk di dapatkan karena memang sudah kalah bersaing.

Pada pagi hari di kawasan Sawah Bajo Bodoa sudah sangat ramai dengan warga yang akan tumpah ruah dengan tradisi ini. Panen akan diadakan pada kurang lebih 1.000 hektar tanaman padi di daerah ini. Ase lapang juga menjadi patokan bagi seluruh padi oleh karena itu ini harus di panen pertama baru padi lain mengikuti.

Warga lalu memanen ase lapang menggunakan alat tradisional yang biasa disebut juga dengan ketam. Sesudah di panen dibagi menjadi 12 rumpun yang masing-masing dengan berat 5 kg dan dipikul satu orang. Selain itu juga ada 2 rumpun besar dengan ukuran berat 100 kg.

Setelah itu rumpun padi ini semua dijajarkan pada jalanan dan di hias juga dengan bunga, selama itu para petani juga mengarak rumpun ini ke kerajaan sambil bersorak sorai gembira. Selain itu ada juga beberapa orang yang akan menghidangkan beberapa makanan seperti nasi yang berasal dari ase lapang yang dipanen sebelumnya.

Keindahan kebersamaan

Melalui perayaan ini memberikan pengalaman bahwa sebuah kebersamaan dalam bergotong-royong merupakan sebuah hal yang sangat penting bagi sebuah keberhasilan. Selain itu perayaan ini juga menjadi sebuah wujud syukur kepada pencipta atas segala berkat yang diberikan sehingga bisa memanen padi dengan kualitas yang sangat baik.

Sampai saat ini kabupaten Maros memang menjadi salah satu wilayah yang memberikan sumbangsih padi yang terbesar yang ada di Sulawesi Selatan. Setidaknya ada sekitar 248.919 ton padi yang berhasil di panen setiap tahunnya oleh Kabupaten Maros.

Melihat Penampilan Dari Kereta Kerajaan yang Paling Antik di Dunia

Kereta Kerajaan pastinya akan selalu ada pada setiap kerajaan. Namun tentu saja secara tampilan dari masing-masing kereta kerajaan tersebut akan berbeda. Hal ini tentu saja karena setiap kereta akan membawa identitas masing – masing dari kerajaannya. Dan hal ini juga terjadi pada Kereta Kerajaan Kota Cirebon. Kerajaan pada kota Cirebon ini juga menampilkan budaya yang ada pada kerajaan tersebut. untuk kerajaan di kota Cirebon ini menggunakan kereta yang terbuat dari kayu. Kereta kayu ini mempunyai dua sayap yang sangat megah ukurannya dan mempunyai ukiran yang sangat bagus. Kereta kerajaan Cirebon ini mempunyai warna merah pada sebagian besar kereta dan warna emas pada bagian tempat duduk dari kereta kerajaan tersebut. Namun bentuk dari kereta kerajaan ini pastinya mempunyai makna tersendiri bagi Anda kerajaan Cirebon ini. Bentuk sayap pada kereta kerajaan ini serta bentuk gajah maupun singa barong juga mempunyai makna tersendiri.

Continue reading