Mendalami Arti Dari Katto Bokko

Indonesia memang tidak pernah lepas dari sejumlah budaya yang memang akan membawa negeri ini menjadi salah satu tempat yang memiliki jutaan budaya. Pernahkah Kamu mendengar apa itu “Katto Bokko”? Ini merupakan sebuah tradisi yang ada di Tanah Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Bisa dibayangkan jika dalam sebuah kabupaten saja ada sebuah tradisi bagaimana dengan kabupaten yang lainnya.

Tradisi ini erat sekali kaitannya dengan padi atau sawah yang memang akan membuat sekitar warga semakin sejahtera. Alasan mengadakan pesta ini adalah karena adanya padi langka yang menjadi bintang utama dalam tradisi ini. Katto Bokko sendiri memiliki sebuah arti yaitu ‘Panen padi berikatan besar’. Panen dan tradisi ini sendiri diadakan di Kerajaan Adat Marusu yang sudah merupakan sebuah tradisi yang turun temurun di jalankan.

Baru-baru ini pihak kerajaan juga mengadakan tradisi ini tepatnya pada hari Minggu 20 Maret 2016. Tentu saja ini merupakan sebuah pesta yang besar yang ada di kawasan kerajaan ini yang mengundang hampir seluruh warga untuk bisa berpartisipasi dan bisa membuat perayaan ini semakin penuh.

Rangkaian Katto Bokko

Pada awalnya pesta ini dimulai dengan adanya doa dan silaturahmi yang diadakan satu malam sebelumnya dimana pada doa ini juga dihadiri oleh semua warga yang ada. Barulah pada keesokan harinya rangkaian acara kembali diadakan dengan mengadakan panen padi dengan varietas terbaik yang ada.

Padi yang biasanya dipanen pada acara ini adalah padi varietas lokal yang biasa disebut juga dengan ase lapang. Padi jenis ini memang yang terbaik yang ada di kawasan ini namun saat ini memang sudah sering tergeser dengan adanya padi lain yang berasal dari pembuatan modern. Sehingga ini membuat ase lapang saat ini sudah semakin sulit untuk di dapatkan karena memang sudah kalah bersaing.

Pada pagi hari di kawasan Sawah Bajo Bodoa sudah sangat ramai dengan warga yang akan tumpah ruah dengan tradisi ini. Panen akan diadakan pada kurang lebih 1.000 hektar tanaman padi di daerah ini. Ase lapang juga menjadi patokan bagi seluruh padi oleh karena itu ini harus di panen pertama baru padi lain mengikuti.

Warga lalu memanen ase lapang menggunakan alat tradisional yang biasa disebut juga dengan ketam. Sesudah di panen dibagi menjadi 12 rumpun yang masing-masing dengan berat 5 kg dan dipikul satu orang. Selain itu juga ada 2 rumpun besar dengan ukuran berat 100 kg.

Setelah itu rumpun padi ini semua dijajarkan pada jalanan dan di hias juga dengan bunga, selama itu para petani juga mengarak rumpun ini ke kerajaan sambil bersorak sorai gembira. Selain itu ada juga beberapa orang yang akan menghidangkan beberapa makanan seperti nasi yang berasal dari ase lapang yang dipanen sebelumnya.

Keindahan kebersamaan

Melalui perayaan ini memberikan pengalaman bahwa sebuah kebersamaan dalam bergotong-royong merupakan sebuah hal yang sangat penting bagi sebuah keberhasilan. Selain itu perayaan ini juga menjadi sebuah wujud syukur kepada pencipta atas segala berkat yang diberikan sehingga bisa memanen padi dengan kualitas yang sangat baik.

Sampai saat ini kabupaten Maros memang menjadi salah satu wilayah yang memberikan sumbangsih padi yang terbesar yang ada di Sulawesi Selatan. Setidaknya ada sekitar 248.919 ton padi yang berhasil di panen setiap tahunnya oleh Kabupaten Maros.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.