Kampung Tarung dengan Berbagai Keunikan Adat Istiadatnya

Jika selama ini kamu berkunjung ke daerah Sumba, Nusa Tenggara Timur, mungkin kamu hanya mengenal satu destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi yaitu Pulau Moyo. Namun jangan salah, selain Pulau Moyo ternyata masih ada yang lebih menarik untuk kamu kunjungi ketika berkunjung ke daerah ini, diantaranya adalah sebuah desa yang masih sangat khas dengan adat istiadat mereka salah satunya adalah bangunan yang masih mereka gunakan. Lokasi nya berada di Kampung Tarung yang memiliki 38 rumah adat dan masih berdiri kokoh di kawasan ini.

Untuk kamu yang belum pernah mencoba wisata budaya, maka kawasan yang satu ini sangat cocok untuk kamu yang ingin mencoba wisata budaya dengan tarif yang cukup terjangkau. Kawasan nya terletak di Wakaikabubak dan dihuni tak lebih dari 27.000 jiwa. Meskipun angkanya yang relatif kecil tapi mayoritas penduduknya memiliki tempat tinggal yang terpencar – pencar. Tak hanya di kota besarnya saja melainkan hingga ke pegunungan memiliki keunikan tersendiri karena tiap kampung yang ada di kawasan ini masih mempertahankan adat istiadat mereka yaitu masih menggunakan bangunan asli. Di kawasan tersebut setidaknya ada 4 perkampungan yang sudah cukup terkenal di kalangan para wisatawan yaitu Kampung Tarung, Waitabar, Bodo Ede, dan Bodomaroto.

Jika kamu pertama kalinya menjejakkan kaki di salah satu kampung tersebut tentunya kamu akan beranggapan masyarakat disana masih sangat tradisional dan memegang teguh adat istiadat mereka, karena di bagian depan bangunan kamu akan melihat jajaran tanduk kerbau yang dipasang. Rumah adat yang terdapat disini jauh dari kesan modern karena bangunannya sendiri terbuat dari kayu asli yang pada bagian atapnya terbuat dari alang – alang sehingga terbebas dari gempa, belum lagi adanya makam yang dibangun di ruangan terbuka. Ornamen – ornamen dari rahang babi serta tanduk kerbau sedikit akan membuat kamu merasa sedikit ngeri, namun ternyata masyarakat yang tinggal di kawasan ini memiliki anggapan yang berbeda. Semakin banyak ornamen – ornamen yang dihias di dalam rumah maka semakin kian tinggi status sosial dan kedudukannya.

Nah, jadi kalau kamu melihat rumah yang ada di perkampungan tersebut ternyata memiliki hiasan rahang babi dan tanduk kerbau yang paling banyak maka bisa dikatakan mereka yang paling dihormati di kampung tersebut. Suasana yang dapat kamu rasakan di kampung tersebut pun jauh berbeda dengan suasana yang ada di kota – kota besar, namun bukan karena mereka masyarakat yang terisolasi akan tetapi pada kenyataannya di kawasan tersebut sudah banyak penduduk yang menggunakan televisi bahkan menggunakan ponsel sekalipun. Jadi bisa disimpulkan meskipun adat istiadat mereka masih ditegakkan tak dapat dipungkiri jika peradaban baru juga sudah mulai masuk ke dalamnya.

Kawasan ini sangat cocok untuk kamu yang menginginkan suasana wisata yang bebas dari hiruk – pikuk kota besar dengan berkunjung ke perkampungan ini, karena nyatanya sudah banyak wisatawan lokal hingga mancanegara yang berkunjung ke kawasan ini. Mayoritas penduduk sekitar memiliki mata pencaharian dengan mengandalkan hasil dari sawah dan perkebunan yang mereka miliki, beberapa diantaranya adalah membuat kain dengan bantuan alat tenun.

Meskipun dilihat dari berbagai sisi jika mayoritas masyarakatnya sangat jauh dari kesan modern, namun ternyata ada sisi positif dari keberadaan rumah yang dihuni yaitu tahan terhadap gempa. Rumah – rumah yang terdapat di kampung tersebut memiliki ciri – ciri yang sama dengan keberadaan rumah – rumah yang dibangun di Negara Jepang. Kayu asli yang dipakai membuat rumah tersebut bisa bertahan hingga ratusan tahun tanpa adanya perbaikan, kecuali mengganti bagian atapnya. Kampung tersebut tak sepenuhnya terisolasi, mengingat jika dilihat sebenarnya beberapa daerah di sekitarnya sudah cukup modern.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.