Sistem Subak Menjadi Rahasia Keindahan Sawah Bertingkat di Bali

Semua orang Indonesia pasti kenal yang namanya Pulau Bali, salah satu pulau indah di nusantara yang terkenal hingga ke seluruh dunia. Sudah sejak lama Bali berkembang pesat dan memiliki masyarakat yang makmur dari sektor pariwisatanya. Berbagai tempat indah dan menarik ditambah fasilitas berlibur yang sudah lengkap dan modern menjadi serangkaian nilai lebih Pulau Dewata. Pulau Bali sangat terkenal akan keindahan berbagai pantai disana dengan segala kearifan budaya lokal yang ada.

Pesona Pemandangan Lain di Bali

Keindahan Pulau Bali yang selama ini dianggap sebagai ibukota wisata tidak hanya sebatas pantainya yang selalu penuh pengunjung akan tetapi beberapa obyek wisata mengharuskan Kita melewati kawasan pertanian masyarakat setempat. Sekilas Kita akan dibuat takjub oleh pemandangan deretan sawah yang ada di sepanjang perjalanan. Pertanian di Pulau Bali menganut sistem Subak yang diakui sebagai sistem pengairan pertanian masa depan. Subak merupakan sistem pengairan pada lahan pertanian yang saling berbagi antar petani yang ada.

Sejarah Sistem Subak Bagi Pertanian Pulau Bali

Sebelum mengenal sistem Subak, Pulau Bali masih menganut sistem pengairan lama sehingga kebutuhan air pada lahan sawah berkurang. Sebagian besar dikuasai oleh mereka yang berada di bagian atas, sehingga petani di bawahnya rentan gagal panen. Sistem yang tidak sehat dan cenderung menguntungkan satu pihak saja ini berdampak bagi pertanian Pulau Bali. Kondisi tanah pertanian di Bali semakin parah dengan kondisi sungai yang lebih curam dibanding pulau atau daerah lainnya. Kondisi seperti ini membuat kebutuhan aliran air ke area persawahan pun semakin terbatas.

Oleh para petani setempat kemudian saling bekerja sama untuk membangun terowongan sebagai jalan air ke lahan pertanian. Pembuatan terowongan cukup sulit sebab harus menggempur tanah yang terdiri dari batuan cadas yang mudah menyerap air. Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air di lahan sawah membuat para petani berinisiatif membentuk organisasi. Organisasi ini kemudian disebut dan dikenal hingga sekarang sebagai Subak. Subak kemudian dipimpin oleh seorang Kelian Subak, sering juga disebut Pekasek yang juga seorang petani.

Pekasek adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengatur pemenuhan kebutuhan air secara egaliter sehingga menyentuh semua lahan pertanian yang ada. Ketika musim dan saluran irigasi mendukung maka semua petani akan menikmati manfaatnya bagi sawah masing – masing. Sistem Subak juga memberikan ketetapan masa atau jadwal tanam yang lebih ketat dan wajib dipatuhi semua petani. Ketika ada yang melanggar maka pemberian sanksi akan dilakukan sehingga sampai sekarang nyaris tidak pernah ada kasus.

Menghadapi kendala kemungkinan terjadinya suplai air yang berlebihan, maka pada setiap sawah dibuat saluran drainase. Petani bisa membuang kelebihan air yang ada ke saluran tersebut sehingga tidak terbuang percuma. Dalam sistem Subak ini terdapat beberapa ketentuan seperti:

1. Adanya saling meminjam air antar petani, maupun antar Subak.
2. Pemberian jatah air yang lebih banyak untuk sawah yang berada di ujung atau hilir.
3. Menetapkan kebijakan pemakaian air untuk disumbangkan kepada petani lain.
4. Petani dilarang menengok sawah di malam hari ketika irigasi sedang buruk dan semua diserahkan kepada Pekasek.

Melalui sistem irigasi pertanian yang terstruktur dan dipatuhi dengan baik oleh semua petani menjadikan sistem ini mendukung produksi pertanian. Sistem Subak memang sudah dianut dan diaplikasikan petani Bali sejak ribuan tahun. Maka tidak mengherankan jika UNESCO menobatkan sistem Subak sebagai salah satu Kekayaan Budaya sekaligus Wisata Dunia.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.