Kopiah Maukeutop Buah Tangan Bernilai Sejarah Dari Aceh Barat

Ketika berkunjung ke Aceh, jangan lupa untuk mampir ke Aceh Barat yang memiliki ikon Kopiah Maukeutop. Kopiah Maukeutop adalah salah satu pelengkap dalam pemakaian pakaian adat dan menjadi kopiah para raja. Meskipun menjadi busana pelengkap sang raja hingga sekarang kopiah ini masih bisa ditemukan. Para wisatawan bisa membelinya untuk dijadikan buah tangan sebab memiliki nilai sejarah sekaligus budaya lokal masyarakat Aceh barat.

Mengenal Kopiah Maukeutop

Masyarakat Aceh Barat hingga sekarang masih bisa ditemukan menggunakan kopiah Maukeutop untuk acara adat. Kopiah ini sebagaimana kopiah pada umumnya digunakan oleh kaum laki – laki dan menjadi atribut pelengkap busana adat. Para lelaki akan terlihat mengenakan kopiah ini ketika ada acara adat, upacara adat, pesta pernikahan, dan upacara lainnya. Meski masih bisa ditemui, kopiah Maukeutop sendiri harus dipesan di Banda Aceh sebab tidak ada pembuatnya di daerah lain. Semua pengusaha jasa penyewaan baju adat misalnya harus memesan kopiah khas tersebut di Banda Aceh.

Bentuk kopiah Maukeutop memang cukup unik dan berbeda dengan kopiah pada umumnya atau dari daerah lain. Kopiah ini terbuat dari bahan kain yang di rajut hingga membentuk sebuah penutup kepala yang tinggi. Warna dasar yang digunakan pada kopiah khas ini adalah merah dan juga kuning kemudian berpadu dengan warna lain. Bisanya menambahkan warna hitam, hijau, dan penambahan warna dasar di sekitar motif rajutan. Semua warna yang digunakan ternyata memiliki makna yang berbeda – beda, yakni:

1. Warna merah untuk melambangkan keberanian dan kepahlawanan,
2. Warna kuning yang memiliki arti sebuah kerajaan atau negara,
3. Warna hijau yang diartikan sebagai agama,
4. Warna hitam menandakan ketetapan atau keteguhan hati,
5. Sementara warna putih melambangkan kesucian dan keikhlasan.

Bentuk kopiah yang memang unik ternyata juga memiliki makna tersendiri, adapun makna yang disampaikan tersebut adalah:

1. Pada bagian pertama kopiah memiliki makna sebuah hukum,
2. Bagian kedua memiliki makna sebagai adat,
3. Bagian ketiga memiliki makna kanun, dan
4. Bagian keempat menyimpan makna reusam.

Secara umum bentuk atau desain Kopiah Maukeutop memang sama saja, pembedanya terletak pada kain songket yang melilit kopiah. Warna kain songket biasanya disesuaikan dengan warna pakaian adat yang dikenakan apakah merah, kuning, dan sebagainya.

Nilai Sejarah Kopiah Maukeutop 

Bagi masyarakat Aceh, kopiah Maukeutop memiliki nilai sejarah dan perjuangan sebab menjadi kopiah kebesaran para raja. Pahlawan nasional, Teuku Umar juga selalu mengenakan kopiah ini dalam menemani perjuangannya. Teuku Umar wafat setelah tertembak pada tahun 1899 ketika melawan tentara Belanda di Meulaboh. Tempat tertembaknya Teuku Umar kemudian dibangun sebuah tugu, tugu bersejarah ini kemudian diberi nama Tugu Kopiah Maukeutop. Sayangnya pada Desember 2004 tugu ini ikut hanyut bersama terjangan tsunami yang menghantam Aceh. Meski begitu pasca bencana dilakukan rekonstruksi dan tugu dibangun kembali meskipun sedikit bergeser ke arah barat.

Pengrajin Kopiah Maukeutop

Meski hanya bisa ditemui di Banda Aceh, Kita tetap bisa bertemu dengan beberapa tempat pengrajin kopiah Maukeutop. Pembuatan kopiah khas Aceh Barat ini membutuhkan waktu sekitar 15 hari bisa juga lebih dalam kondisi tertentu. Hasil kerajinan kopiah ini oleh pembuatnya biasa dijual seharga Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembentukan motif. Jika berkenan memiliki kopiah peninggalan para raja di Aceh maka jangan lupa membeli kopiah Maukeutop sebagai oleh – oleh.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.