Menilik Rumah Gadang dengan Sejarah Panjang di Nagari Sumpur

Sebagai negara Bhinneka Tunggal Ika, ada banyak bentuk dari kebudayaan leluhur kita yang sampai sekarang masih bisa kita lihat, nikmati, dan juga gunakan. Dari makanan, pakaian, sampai dengan arsitektur. Salah satu arsitektur khas dari negara ini adalah . Rumah Gadang mempunyai bentuk arsitektur yang sangat khas, yang pasti sangat mudah kamu kenali dari atapnya yang mencuat di kedua ujungnya. Uniknya, tidak semua daerah di kawasan Sumatera Barat diizinkan untuk membangun rumah ini, khusus hanya yang punya status sebagai daerah nagari atau semacam desa, yang terbagi-bagi di dalam wilayah kecamatan di Sumatera Barat.

Sayangnya, di Sumatera Barat sendiri, Rumah Gadang ini juga sudah tak begitu banyak. Kalau kamu ingin melihatnya, salah satu tempat yang sangat tepat adalah di Nagari Sumpur yang berada di Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Di kawasan inilah, kamu bisa melihat puluhan Rumah Gadang yang sudah berusia sampai 100 tahun.

Mengalami Banyak Tragedi

Sayangnya, Rumah Gadang yang ada di Nagari Sumpur ini sendiri telah mengalami berbagai tragedi. Jumlah rumah yang tadinya bisa mencapai 200 Rumah Gadang, kemudian menciut karena hancur dan terbakar ketika masa pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Tragedi tersebut menyisakan 68 Rumah Gadang Nagari Sumpur. Sayangnya, ketika tanggal 26 Mei 2013, terjadi konsleting listrik yang menghanguskan 5 buah rumah. Sekarang, hanya tersisa 63 rumah saja. Tapi pelan – pelan Rumah Gadang di Nagari Sumpur pun mulai dibangun ulang. Rumah pertama yang berhasil direkonstruksi ulang diresmikan di bulan Februari 2015, dan yang kedua diresmikan Sabtu, 5 Maret 2016 dengan nama Rumah Gadang Siti Fatimah.

Proses Pembangunan yang Panjang

2 bulan setelah terjadinya kebakaran, diadakanlah pertemuan yang dihadiri banyak pihak. Tujuannya satu, membuat Nagari Sumpur menjadi tempat wisata budaya, dan itu berarti membangun ulang rumah – rumah yang telah terbakar tersebut. Penegakan tonggak pertama, atau secara tradisional disebut dengan Batagak Tonggak Tuo, dilakukan di bulan April 2014. Proses ini diawali dengan rapat adat, lalu memilih pohon yang tepat dan menebangnya, maelo atau membawa kayu tersebut, mencacahnya, dan kemudian menegakkan tonggak, diakhiri dengan pidato. Tahapan selanjutnya adalah naik ke Rumah Gadang tersebut. Untuk membangun ulang Rumah Gadang yang pertama, waktunya mencapai 7 bulan. Sedangkan untuk pembangunan Rumah Gadang Siti Fatimah ini diperlukan sampai 16 bulan karena ukurannya yang besar.

Tempat Wisata Budaya

Buat kamu yang tertarik dengan kebudayaan dan sejarah yang kaya di Nagari Sumpur ini, ataupun menyukai arsitektur – arsitektur unik yang dimiliki oleh banyak suku di Indonesia, bisa mampir ke tempat ini. Nagari Sumpur merupakan salah satu lokasi di mana ada banyak sekali Rumah Gadang yang masih tersisa, terlepas dari banyaknya tragedi yang menimpa tempat ini. Tertarik mengunjunginya? Gampang kok menuju tempat ini. Nagari Sumpur lokasinya ada di Kecamatan Batipuh Selatan, kurang lebih 80 kilometer kalau kamu berangkat dari Padang. Kamu punya pilihan kendaraan:

• Rental mobil dengan tarif Rp 450.000,00/hari.
• Naik bus menuju Padang Panjang dengan tarif Rp 20.000,00/hari, terus sambung pakai angkot ke Batipuh yang ongkosnya Rp 7.000,00. Turun saja di Simpang Nagari.

Soal penginapan juga tak masalah. Ada Hotel Sumpur yang posisinya di tepi Danau Singkarak yang bisa jadi pilihan. Bahkan kalau kamu mau menginap di Rumah Gadang juga bisa. Tapi yang penting pesan dulu, apalagi kalau kamu datangnya dengan bawa rombongan.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.