Rumah Adat Melayu Bangka yang Masih Eksis di Bangka Tengah

Tak semua kawasan yang ada di Indonesia memang bisa dikatakan modern, nyatanya memang ada lebih dari satu wilayah yang sangat jauh dari kesan tersebut, salah satunya adalah dapat kamu lihat dari bangunan yang ada di dalamnya, banyak memang slogan-slogan yang bersihkan internet untuk bisa hidup di dunia yang modern, atau penggunaan teknologi, namun nyatanya untuk pemerintah Indonesia sendiri memang belum bisa meratakan hal tersebut kecuali di kota-kota besar, mengingat kondisi wilayahnya sendiri sangat besar sehingga belum ada pemerataan.

Namun ini juga menjadi salah hal menarik, tanpa adanya campur tangan dari budaya luar nyatanya Anda tetap bisa hidup dalam dunia modern ini, budaya asli tak ikut terkontaminasi, hal ini menjadikan beberapa kawasan yang masih sangat kental akan nilai budayanya tersebut dihadirkan sebagai tempat wisata budaya yang menarik perhatian oleh wisatawan, baik itu lokal maupun mancanegara. Kamu bisa menjumpai salah satunya pada desa Perlang, Lubuk basar, Bangka Tengah, kawasan yang satu ini masih kental dengan budaya asli, salah satunya bisa di lihat dari bangunan tempat tinggal suku tersebut.

Hampir semua rumah yang dijadikan sebagai tempat tinggal suku yang ada disini kaya akan nilai eksotisme, bagi yang mencintai dunia fotografi belum tentu Anda bisa menemukannya dalam rumah yang ada di perkotaan besar, mereka masih menempati sebuah rumah berdinding kayu dengan atap berbahan daun nipah, rumah panggung yang satu ini menjadi obyek menarik untuk kamu abadikan, kebanyakan yang datang memang mereka yang juga tengah meneliti budaya masyarakat setempat sehingga tak memungkiri bahwa kawasan ini sebenarnya ramai dengan kunjungan.

Jika kamu melihat sekilas rumah panggung ini pasti kan berpikir bagaimana mungkin seseorang akan tinggal di dalamnya tanpa rasa takut bahwa bangunan tersebut dapat roboh kapan saja pada saat ada hujan lebat disertai dengan angin, melihat sekilas memang ada pemikiran demikian, namun pada kenyataannya tidak, meskipun nampak sangat rapuh namun ternyata fondasi dari bangunan asli penduduk tersebut sangat kuat, bahkan ia juga bisa berumur lebih panjang dari bangunan modern, namun bagian atap yang berasal dari daun nipah sendiri harus lebih sering diganti.

Untuk berinteraksi dengan masyarakat daerah tersebut juga masih cukup sulit hanya sebagian saja yang mengerti akan penggunaan bahasa Indonesia, sebagian khususnya usia tua mereka masih berbicara dengan bahasa Tua Tunu, dulunya hanya ada 10 kepala keluarga yang merupakan suku asli dari Tua Tunu, lama kelamaan wilayah ini dipenuhi dengan anak cucu keturunan mereka, hingga saat ini setidaknya ada 5 suku yang menetap, mulai dari suku asli tersebut, Madura, Jawa, Flores dan Melayu Bangka, tentunya tak semua yang masih menghuni rumah adat tersebut.

Beberapa tahun yang lalu kehidupan masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan tersebut bahkan lebih tradisional lagi, mereka belum mengenal listrik, satu-satunya sumber penerangan yang digunakan juga terbatas pada obor, namun sejak dibangunnya jalan raya dan jembatan yang menjangkau area tersebut pasokan listrik juga mulai berdatangan, mereka tak lagi dikatakan sebagai yang tertinggal, namun memang masih mempertahankan adat istiadat yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perkampungan yang ada di sini masih sangat asri, selain karena kawasan terpencil juga memang apa yang mereka konsumsi adalah makanan-makanan tradisional, hanya bahan apa saja yang berasal dari kebun atau hewan yang dipelihara, sampah plastik adalah sesuatu yang jarang untuk ditemui.

Share this:

One comment, add yours.

Terimakasih, artikelnya sangat bermanfaat sekali. Jangan lupa untuk mengunjungi website kami di Toko Kostum Drumband Di Surabaya

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.