Candi Ijo Yogyakarta

Yogyakarta menjadi salah satu kota atau Daerah Istimewa yang kaya akan destinasi wisata, baik wisata budaya, religi, kuliner, sampai belanja. Semua tujuan wisata ada disini, sehingga saat musim liburan selalu dipenuhi wisatawan baik lokal maupun turis asing. Sebagai destinasi wisata unggulan, Yogyakarta menawarkan banyak tempat untuk disinggahi. Salah satunya ialah Candi Ijo yang termasuk ke dalam obyek wisata budaya yang bernilai sejarah tinggi.

Lokasi Candi Ijo yang Menarik

Untuk menikmati kemegahan Candi Ijo, Kita perlu mampir dulu di Dusun Groyokan yang berada di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman. Candi satu ini merupakan salah satu candi tertinggi yang bercorak Hindu di tanah Jawa. Berada pula di lokasi yang cukup tinggi yakni di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 375 Mdpl. Letaknya yang berada di dataran tinggi, membuat pengunjung bisa menikmati pemandangan indah dari puncak Candi Ijo. Ketinggian ini juga menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk mampir kemari.

Kompleks Candji Ijo berbentuk undakan yang berteras – teras, sehingga per bagiannya membentuk sebuah panggung. Bagian puncaknya memiliki ketinggian terbaik dan berada di posisi paling belakang, kemudian dilindungi oleh candi yang lebih rendah dan kecil. Bentuknya yang berteras-teras sekaligus menawarkan pemandangan dari puncak tertinggi di Sleman. Menjadikan kompleks Candi Ijo semakin ramai saat bulan Ramadhan sebagai lokasi ngabuburit. Daya tariknya adalah pemandangan yang alami dan cantik ketika matahari mulai terbenam di sisi barat Yogyakarta.

Uniknya lagi, meskipun menjadi salah satu candi bersejarah dan disambangi banyak wisatawan tidak membuat pengurus nya menarik biaya masuk. Sehingga masyarakat sekitar maupun dari luar daerah tidak perlu membayar untuk bisa masuk dan mengabadikan pemandangan cantik yang disuguhkan Candi Ijo.

Sejarah Pemberian Nama Candi Ijo

Nama candi cantik ini memang terdengar unik, yakni Candi Ijo, nama ini tidak Merefleksikan warna pada dinding candi yang kehijauan. Sebab sama seperti candi pada umumnya, warna bangunan candi abu gelap dan berupa bebatuan yang tersusun sempurna. Pemberian nama ini mulai dikenal pada tahun 906 Masehi, setelah ditemukannya prasasti Poh di kawasan candi. Parasasti tersebut menunjukkan bahwa desa yang menjadi lokasi berdirinya candi dahulu dikenal sebagai Desa Ijo.

Kemudian lokasi tempat Candi Ijo berdiri juga merupakan sebuah bukit dengan nama Bukit Hijau atau pada abad ke-19 lalu dikenal sebagai Gumuk Hijau. Sejak saat itulah, kompleks candi berteras ini kemudian diberi panggilan atau nama sebagai Candi Ijo.

Struktur Desain pada Candi Ijo

Seperti yang sudah disinggung sedikit sebelumnya, bahwa kompleks candi satu ini memiliki desain berteras-teras. Pada teras pertama Kita akan menjumpai teras berundak yang desainnya dibuat membujur dari barat ke timur. Teras paling atas memiliki desain pagar keliling, yang memiliki delapan buah Lingga Patok. Teras ketiga sebagai teras terakhir, pengunjung akan mendapati candi utama yang dilindungi oleh tiga Perwara.

Candi utama yang memiliki ukuran paling besar ini terdapat sebuah bilik yang di dalamnya terdapat Lingga Yoni. Lingga Yoni ini merupakan perlambangan dari bersatunya Dewa Siwa dengan Dewi Parwati, setelah terpisah. Sementara pada tiga Perwara yang melindunginya, pengunjung akan menjumpai arca Nandi dan juga meja batu atau dikenal sebagai padmasana. Arca Nandi sendiri disebut sebagai tunggangan milik Dewa Siwa. Ada beberapa bentuk seni rupa yang menghiasi dinding candi salah satunya adalah arca Kala Makara dengan bentuk kepala ganda, dan lain sebagainya.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.