Menyisipkan ‘Roh’ Modernitas di Pasar Papringan

Pasar merupakan tempat transaksi jual beli paling tradisional yang ada di Indonesia, hampir semua orang tentunya mengenal tempat yang satu ini, mengingat dulunya tempat transaksi memang dilakukan dari sini, namun seiring dengan berkembangnya zaman, banyak yang sudah melupakan konsep ini, umumnya pergi dan berbelanja ke pasar hanya dilakukan oleh kalangan menengah ke bawah saja, sedangkan untuk yang tingkat penghasilannya tinggi pasti lebih senang datang ke supermarket atau pusat perbelanjaan mewah.

Nah dari sekian banyak pasar tradisional yang ada di Indonesia beberapa diantaranya memang terbilang sangat menarik untuk dijadikan sebagai tempat wisata, salah satunya adalah pasar terapung yang ada di wilayah Kalimantan, dimana nantinya penjual dan pembeli akan melakukan transaksi dari atas sebuah perahu kecil di hamparan sungai yang memang sangat besar. Sebagian besar orang yang datang kesana nyatanya tak memiliki keinginan untuk berbelanja, melainkan lebih pada wisata, menikmati hal baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Konsep yang unik ternyata juga diterapkan pada sebuah pasar yang ada di daerah Jawa tengah, tepatnya berada di Kabupaten Temanggung, selama ini konsep pasar tradisional mungkin ada di dalam kawasan yang kumuh, becek pada saat hujan tiba atau kawasan yang paling ekstrim yaitu berada di atas perahu yang tengah mengambang, nah disini justru diciptakan sebuah model pasar baru dengan konsep berupa ekosistem alam, mendengar namanya saja tentunya yang akan ada di benak Anda dalah pasar yang ramah lingkungan bukan.

Pasar yang satu ini terbilang dadakan namun juga unik, karena memang hanya dibuka pada saat Minggu Wage, kepercayaan yang berhubungan dengan mistis masih sangat melekat kuat disini, sangat unik karena tak sembarangan waktu ada yang berjualan disini, mereka hanya mengikuti aturan yang ada dalam kalender Jawa, namun juga ada banyak hal yang dijadikan sebagai pantangan dalam transaksinya, seperti tak diperkenankan dalam mengucapkan kata-kata umpatan, kemudian juga berbohong karena masih sangat menjunjung adat istiadat bahkan ada penunggu di dalam kawasan tersebut.

Uniknya memang tak berada dalam sebuah ruangan terbuka atau juga kawasan yang padat penduduk, lokasi pasar yang satu ini ada di bawah sebuah hutan bambu, beberapa orang menyebutnya sebagai papringan, pasar yang satu ini memang mulai buka pada 10 Januari tahun 2015 lalu, namun mulai banyak pengunjung yang datang untuk secara langsung menyaksikannya, ini juga upaya untuk membuat warga masyarakat tak melupakan hal-hal yang sifatnya tradisional.

Kawasan yang memang dulunya sepi ini sengaja diberikan ‘roh’ modernitas agar lebih ramai dengan pengunjung. Namun juga jangan terlalu memikirkan penunggu atau tidak, nyatanya selama Anda mengikuti aturan yang ada tak akan ada sesuatu yang menganggu. Hal ini juga sengaja dilakukan untuk mendatangkan wisatawan ke daerah tersebut, nah bagi kamu yang ingin melihat secara langsung seperti apa transaksi yang dilakukan di pasar papringan ini maka datanglah pada Minggu Wage, khususnya di jam 07;00 pagi hingga 12;00 siang pasar ini buka.

Umumnya jenis barang yang dijual juga unik, diantaranya adalah hiasan yang terbuat dari kayu dan beberapa jenis aksesoris unik lainnya, tentunya hanya bisa kamu temukan disini, paling tidak dalam satu bulan ada 1 pasaran tersebut, selain menikmati transaksi jual beli kamu juga akan merasakan keindahan papringan tersebut, udaranya cukup sejuk dan juga hijau untuk memanjakan mata Anda.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.