Category archive: Wisata Religi

Wisata Spiritual di Pemalang

Bagi sebagian umat muslim pastinya melakukan wisata religi adalah sebuah hal yang sangat penting dan juga akan menjadi sebuah nilai tersendiri terlebih jika sedang berada pada sebuah daerah. Akan tetapi ada banyak juga daerah di Indonesia yang menyimpan segala wisata spiritual yang ada di dalamnya. Ini juga yang bisa kita temukan pada saat kita berwisata ke kawasan Kabupaten Pemalang yang memang sarat akan banyak tempat wisata yang masih belum banyak diketahui oleh banyak orang.

Continue reading

Lokasi Wisata Religi di Pulau Bali

Pulau Bali sangat terkenal dengan destinasi wisata alamnya yang sudah mendunia dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha. Ternyata sebagian kecil masyarakatnya juga mengakui dan berpegang pada kepercayaan agama Islam. Beberapa perkampungan di Bali, termasuk di kota Denpasar, dikenal sebagai perkampungan warga muslim. Mereka sendiri bukanlah pendatang, namun memang penduduk asli yang lahir dan tinggal di Bali dan sejak lama sudah menganut Islam.

Continue reading

Empat Masjid Terbesar dan Tercantik di Dunia

Masjid atau mesjid merupakan  tempat ibadah bagi umat muslim. Selain sebagai tempat untuk beribadah umat muslim, Masjid juga digunakan sebagai pusat kehidupan komunitas Muslim dan sebagai sarana untuk melakukan kegiatan – kegiatan perayaan hari raya, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al – Qur’an. Maka tak heran jika di dunia ini terdapat banyak sekali masjid – masjid dengan berbagai arsitektur. Nah, berikut ada beberapa masjid yang paling cantik di dunia yang sudah dirangkum oleh wonderslist.com.

Continue reading

Wisata Religi di Masjid Kuba, Bau – Bau

Terdapat beberapa pilihan obyek wisata yang terdapat di Indonesia yang bisa kamu kunjungi ketika liburan tiba. Salah satunya adalah wisata religi yang menarik untuk dijalani. Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan sejarah masuknya Islam ke Indonesia membutuhkan waktu yang sangat panjang. Atas nilai sejarah inilah kita dapat mengenal beberapa masjid – masjid yang menyimpan nilai sejarah, salah satunya adalah Masjid Kuba yang terdapat di Kabupaten Bau – Bau, Sulawesi Tenggara.

Continue reading

Menyaksikan Sejarah Akulturasi Islam-Hindu di Masjid Laweyan, Masjid Tertua di Solo

Solo juga menjadi salah satu kota budaya yang menyuguhkan beberapa obyek wisata bernilai sejarah kebudayaan yang tinggi. Kota Solo ternyata juga menjadi salah satu kota yang memiliki masjid tertua di tanah Jawa, yakni masjid Laweyan atau Masjid Ki Ageng Henis. Masyarakat setempat ternyata banyak yang belum mengetahui bahwa bangunan masjid yang berdiri di tepi sungai kawasan Kampung Batik tersebut merupakan masjid tertua.

Sejarah Berdirinya Masjid Ki Ageng Henis

Pendiri dari masjid tertua di Solo ini adalah Ki Ageng Henis sehingga masjid ini juga dikenal sebagai masjid dengan nama beliau. Beliau sendiri merupakan salah satu keturunan Raja Kerajaan Majapahit terakhir, yakni Brawijaya V. Masjid Laweyan ini kali pertama berdiri pada tahun 1546 sehingga pada pembangunan dilakukan pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang. Ki Ageng Henis sendiri merupakan penganut agam Islam sebab memiliki hubungan cukup dekat dengan Sunan Kalijaga.

Ki Ageng Henis sendiri bagi Kerajaan Pajang dikenal sebagai seorang patih, sehingga bisa dikatakan bukan keturunan raja secara langsung. Pada masa jabatannya sebagai Patih, Kerajaan Pajang tengah dipimpin oleh Joko Tingkir. Joko Tingkir sendiri memiliki nama asli yakni Sultan Hadiwijaya yang memberikan perkembangan pesat pada Kerajaan Pajang. Awal mula pembangunan Masjid Laweyan sebenarnya bukan untuk sarana peribadatan umat muslim.

Kala tersebut, bangunan masjid hendak digunakan sebagai tempat peribadatan bagi pemeluk agama Hindu dan Budha. Meski didesain sebagai tempat ibadah non-Islam, namun ketika pengurus sekaligus pencetus berdirinya masjid masuk ke agama Islam. Desain awal tetap dibiarkan seperti aslinya dan kali pertama desain pembangunannya. Meskipun fungsinya kemudian beralih sebagai masjid tatkala pihak pengurus dan Ki Ageng Henis sendiri masuk sebagai pemeluk Islam.

Renovasi pada Bangunan Masjid Laweyan

Meski sudah di alih fungsikan sebagai masjid, namun desain aslinya tetap bertahan sampai Kerajaan Pajang sudah tidak memerintah lagi. Perombakan atau renovasi baru dilakukan ketika mendapati beberapa bagian sudah mengalami kerusakan parah. Renovasi kali pertama dilakukan pada masa kota Solo dipimpin oleh Paku Buwono X. Renovasi total pun dilakukan, dan setelahnya belum ada perombakan berarti lagi sehingga sejak renovasi pertama penampakan masjid masih sama seperti yang sekarang.

Sekilas melihat desain Masjid laweyan, memang pengunjung maupun jamaah tidak akan merasa ada desain yang istimewa. Nilai sejarah sebagai bangunan kuno pun tidak nampak lagi, sebab desain awalnya memang sudah mengalami perubahan saat kepemimpinan Paku Buwono X. Pihak pengurus masjid saat ini juga mengungkapkan bahwa peninggalan agama Hindu Budha di dalamnya sudah tidak ada. Kecuali pada bedug yang memiliki desain khas bedug yang digunakan oleh umat Hindu dan Budha untuk memanggil jamaah nya beribadah.

Berdirinya Masjid Laweyan menjadi salah satu tanda perjalanan agama Islam memasuki wilayah kekuasaan Paku Buwono. Bahkan masuknya Islam sudah terjadi jauh sebelum Kasunanan Surakarta memimpin wilayah Solo sampai sekarang. Tanpa masuknya Ki Ageng Henis menjadi pemeluk Islam mungkin masjid ini masih digunakan sebagai tempat peribadatan umat Hindu dan Budha.

Masjid Laweyan sendiri berada di kawasan kampung Batik Laweyan, yang menjadi salah satu bukti terjadinya akulturasi budaya Islam-Hindu. Meski awalnya dibangun sebagai Pura, namun dengan adanya akulturasi pihak tertinggi Kerajaan Pajang membuatnya beralih fungsi sebagai masjid tertua dan bersejarah. Pemugaran yang dilakukan menjadikan bentuk aslinya sudah tidak nampak lagi, terutama sentuhan Hindu-Budha di dalamnya.

Foto oleh: surakarta.go.id

Masjid Tertua yang Bernilai Sejarah Masuknya Islam di Pulau Bali

Pulau Bali yang dikenal sebagai salah satu pulau wisata dunia dengan mayoritas penduduknya menganut kepercayaan Hindu dan Budha. Ternyata sebagian kecil masyarakatnya juga mengakui dan berpegang pada kepercayaan agama Islam. Beberapa perkampungan di Bali, termasuk di kota Denpasar, dikenal sebagai perkampungan warga muslim. Mereka sendiri bukanlah pendatang, namun memang penduduk asli yang lahir dan tinggal di Bali dan sejak lama sudah menganut Islam.

Menengok Perkampungan Islam di Bali

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Pulau Dewata dan tertarik untuk melihat kebiasaan dan pola hidup masyarakat Islam – nya. Bisa mampir ke Kampung Bugis, yang masuk ke dalam wilayah Kelurahan Serangan, Denpasar Selatan. Kampung muslim ini juga dikenal sebagai perkampungan Islam terbesar di Bali, dan disebut juga sebagai kampung Pusat Kebudayaan Muslim di Pulau Bali. Sebab disinilah, pengunjung bisa mengkilas balik sejarah masuknya agama Islam ke Bali dan dianut oleh sebagian kecil masyarakatnya sampai sekarang.

Tatkala berlibur ke Bali, tidak ada salahnya mencoba menengok sejarah masuknya Islam di pulau indah ini di Kampung Bugis. Perkampungan muslim ini memiliki sekitar 100 kepala keluarga, dan menyimpan beberapa situs dan peninggalan sejarah bagaimana dan kapan Islam masuk ke Bali. Peradaban Islam masuk ke Pulau Dewata pada sekitar abad ke-17 dan ditandai oleh adanya beberapa peninggalan bersejarah. Sebut saja seperti Masjid Assyuhada, Alquran Kuno, Rumah Adat Bugis, dan juga Kompleks Makam Kuno bernuansa Islam.

Salah satu sesepuh di Kampung Bugis, yakni Haji Mansyur, menuturkan bahwa di kampungnya ini terdapat makam Syekh Haji Mu’min yang berasal dari Ujung Pandang. Syekh Haji Mu’min sendiri masuk ke Pulau Bali pada masa penjajahan VOC, dan melarikan diri ke pulau indah ini. Beliau merupakan tokoh penting dan kemudian meninggal dan dimakamkan di Kampung Bugis. Berdasarkan sebuah penelitian dengan melihat ukiran dan informasi lain pada batu nisannya, diketahui makam tersebut sudah ada sejak abad ke-17.

Masjid Tertua di Kampung Bugis

Diketahui pula bahwa Syekh Haji Mu’min pula yang menjadi penggagas berdirinya Masjid Assyuhada yang saat ini dikenal sebagai masjid tertua di Kampung Bugis. Menurut cerita masyarakat, pembangunan masjid ini dilakukan oleh Raja Badung sebagai ucapan terima kasih kepada Haji Mu’min. Sebab sudah membantu memenangkan peperangan yang terjadi pada masa dahulu. Awalnya, Haji Mu’min hanya meminta izin untuk membangun mushola sebagai tempatnya beribadah. Namun, oleh Raja Badung memberikan penawaran lebih dengan membangunkan sebuah masjid megah.

Hingga saat ini, masjid bersejarah ini masih bisa ditemui dalam kondisi yang kokoh dan biasa juga dijadikan sebagai destinasi wisata religi di Bali. Meskipun ada beberapa bagian bangunan masjid yang dibangun ulang karena mengalami kerusakan, namun nilai sejarahnya tetap ada. Nilai sejarah tersebut hadir bersama utuhnya kusen jendela, mimbar, dan juga langit – langit pada masjid yang dibiarkan asli seperti kali pertama dibangun.

Saat ini semua kegiatan keagamaan masyarakat Kampung Bugis dilakukan di dalam Masjid Assyuhada, dan berlangsung selama puluhan tahun. Kegiatan yang sering dibahas dan dihelat di masjid ini seperti pengajian, shalat, sampai kepada kegiatan yang akan dilaksanakan sepanjang bulan Ramadhan. Kegiatan rapat dan pertemuan yang membahas masalah agama dilakukan di kampung muslim yang masih mempertahankan gaya tradisionalnya ini. Seperti layaknya perkampungan pada umumnya, sepanjang jalan di kampung Kita akan mendapati warung, rumah, kambing, sapi, dan lain-lain menjadi pemandangan umum.

Banyuwangi Festival yang Diselenggarakan Selama Bulan Suci Ramadhan

Jika sebagian dari Anda ingin merencanakan liburan di Bulan Ramadhan kali ini, Kota Banyuwangi bisa Anda jadikan sebagai pilihan karena disana terdapat beraneka festival yang akan diselenggarakan selama Bulan Ramadhan. Festival tersebut akan berlangsung pada tanggal 8 hingga 27 Juni. Rangkaian acara yang akan diselenggarakan di Banyuwangi Festival selama Ramadhan adalah mulai dari Hadrah Pelajar pada tanggal 10 – 11 Juni, Tartil Al-Qur’an pada tanggal 9 – 27 Juni, Festival Patrol dari tanggal 26 – 27 Juni, serta Banyuwangi Islamic Expo dari tanggal 8 – 18 Juni dan menampilkan 14 acara. Bupati Banyuwangi menuturkan jika acara seperti ini diselenggarakan agar seluruh warga Banyuwangi serta para wisatawan yang datang berkunjung untuk dapat lebih mengenal tradisi masyarakat Banyuwangi pada saat Bulan Ramadhan. Hal itu juga menjadi salah satu alasan mengapa festival ini disuguhkan karena sejumlah tradisi bisa dilakukan oleh umat islam Banyuwangi selama Bulan Ramadhan ini.

Continue reading

Mengintip Sejarah Keberadaan Masjid Laweyan Solo, Bangunan Masjid dengan Konsep Hindu -Jawa

Mayoritas penduduk Indonesia memang menjadi pemeluk dari agama Islam, namun pada kenyataannya memang membutuhkan perjalanan yang sangat panjang hingga akhirnya Islam bisa masuk ke tanah air, mengingat sebelumnya kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia memang beraliran Hindu Budha, bukan hal yang sulit untuk mengidentifikasi hal ini bisa dilihat dari beberapa peninggalan yang masih ada hingga sekarang, diantaranya adalah candi-candi yang ada dan juga prasasti.

Bagi Anda yang mengalami kepenatan karena pekerjaan atau aktifitas belajar sebenarnya memang diwajibkan untuk sebentar saja mengambil waktu liburan. Ada beberapa jenis pilihan wisata yang dapat dilakukan, diantaranya adalah mengunjungi obyek wisata alam, yaitu dengan datang ke pantai, gunung, air terjun atau yang lainnya. namun selain dari pilihan wisata alam sendiri satu lagi wisata yang juga akan menenangkan hati Anda adalah dengan mengunjungi tempat wisata religi.

Kebanyakan diantara anak muda memang kurang senang dengan pilihan obyek yang satu ini, mengingat kurang gaul dan merasa tak ada apa-apa yang bisa didapatkan, sebaliknya bagai orang tua berwisata ke beberapa makam atau bangunan sejarah sama dengan silaturahmi mencari pahala, bahkan beberapa orang yang percaya akan sesuatu mistis akan menganggap disini sumber berkah dan rejeki dengan beberapa cara yang kurang masuk akal. Jika kamu sendiri tergolong sebagai orang yang senang untuk belajar sejarah maka ada satu kawasan yang patut untuk didatangi yaitu masjid Laweyan Solo.

Kota Solo yang juga menjadi tempat asal dari Presiden RI saat ini yaitu Jokowi memang menawarkan banyak obyek wisata yang berhubungan dengan sejarah dan juga budaya. Dilihat dari tampilan bangunannya mungkin banyak yang tau bahwa ini sebenarnya adalah masjid, mengingat bangunan yang satu ini lebih mirip sebagai rumah singgah biasa dengan cat berwarna hijau. Namun ternyata ada sejarah panjang dibalik pembangunan tempat ibadah umat muslim yang satu ini di Solo. Tempat yang satu ini dulunya adalah sebuah kediaman putra Majapahit terakhir atau yang dikenal sebagai Brawijaya V.

Ia memiliki bangunan yang cukup panjang, seiring dengan berjalannya waktu datanglah para wali yang dulu juga melakukan siar untuk menyebarkan agama islam yang ada di Indonesia yaitu Sunan Kalijaga. Hubungan antara cucu dari putra Brawijaya V dengan sunan tersebut nyatanya memberikan dampak yang cukup positif, ia mulai mendalami tentang islam dengan belajar shalat dan juga mengaji. Hal inilah yang membuatnya merubah yang dulunya dijadikan sebagai tempat untuk pemujaan Hindu Budha menjadi bangunan ibadah untuk umat islam atau masjid.

Memang membutuhkan perjuangan yang tak mudah dalam meyakinkan bangsa Indonesia untuk mau memeluk agama islam, mengingat Hindu Budha dulunya masih sangat kental, sehingga tak jarang pula budaya islam juga masih di lekati dengan beberapa gaya Hindu dan Budha hingga saat ini. Keberadaan bangunan masjid pertama yang ada di Jawa tengah tersebut kemudian dijadikan sebagai tempat unt7uk syi’ah dalam menyebarkan agama islam secara lebih luas lagi.

Tepatnya di tahun 1960, presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno bahkan pernah mengeluarkan sebuah surat yang menyatakan bahwa 4 bangunan masjid yang ada di Indonesia termasuk sebagai masjid negara, salahnya satunya adalah Masjid Laweyan yang ada di Solo ini, meskipun beberapa kali dilakukan renovasi pada dasarnya tak banyak yang diubah, karena mereka tetap mempertahankan ciri khas utama yaitu bangunan Hindu-Jawa yang masih melekat di dalamnya.

4 Destinasi Wisata Religi Umat Islam Teramai di Hulu Sungai Selatan

Tempat wisata tidak hanya berupa keindahan alam walaupun keindahan alam tersebut merupakan daya tarik terbesar ketika para wisatawan berkunjung ke tempat wisata. Terdapat beberapa destinasi wisata dan salah satunya adalah tempat wisata religi atau tempat wisata yang juga dapat berfungsi untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Salah satu kawasan yang terkenal dengan wisata religinya adalah di Kalimantan Selatan tepatnya di Hulu Sungai Selatan.

Di wilayah yang dihuni oleh Suku Banjar tersebut mayoritas masyarakatnya adalah umat Islam sehingga tidak heran jika nantinya kamu mengunjungi tempat ini akan menemui banyak bangunan masjid bahkan Mushola yang sudah tua. Bangunan tersebut memiliki sejarah tersendiri serta memiliki seni bangunan atau arsitektur yang unik. Di wilayah tempat suku Banjar bernaung ini juga terdapat makam para ulama yang sering dikunjungi oleh warga. Tidak heran jika terdapat makam dengan selimut kain yang berwarna kuning, hijau yang memiliki kaligrafi Arab serta berkelambu yang tidak hanya merupakan makam para ulama namun juga pejuang kemerdekaan yang menjadi tokoh penting.

Di kabupaten Hulu Sungai Selatan terdapat beberapa destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi oleh umat Islam. Pertama adalah Kubur Anam atau disebut juga Makan (enam) Pejuang atau Makam 6 Orang Pahlawan. Destinasi wisata religi ini berada di Jl. Ahmad Yani di Desa Ida Manggala, Kecamatan Sungai Raya. Disebut sebagai makan 6 orang pahlawan karena terdapat 6 pejuang RI yang dikuburkan dalam 2 lubang sehingga terdapat 2 makan di tempat tersebut. Pahlawan yang dimakamkan di tempat ini yaitu:

• Ahmad Sumbawa,
• Muhammad,
• Salamat,
• Ugub,
• Marhalla,
• Darmawi.

Kedua adalah Makan Tumpang Talu yang berada di Jl. Ahmad Yani, kelurahan Kandangan Barat, Kandangan. Sama seperti Makam 6 Orang Pahlawan, di tempat ini juga bersemayang beberapa jenazah dalam 1 lubang. Bedanya, di tempat ini hanya terdapat 1 lubang untuk 3 orang jenazah yang merupakan pejuang Kemerdekaan yang berasal dari Kalimantan Selatan yang tewas saat pertempuran Hantarukung di tahun 1899 yang terjadi di Parincahan, Kandangan. Dinamakan sebagai Makan Tumpang Talun atau Makam tumpang tiga karena posisi jenazah yang bertumpangan atau bertumpuk 3. Para pejuang yang dikuburkan yaitu Bochari, Landoek, Mantamin.

Ketiga adalah Makam H. Sa’duddin. Bernama asli Haji Muhammad Thaib atau dikenal juga sebagai H. Sa’duddin merupakan seorang ulama yang terkenal yang bersal dari kabupeten Hulu Sungai Selatan. Beliau lahir pada 1194 Hijriah atau 1774 Mahasehi di Kampung Dalam Pagar, Martapura. Ayahnya adalah ‘Alimul Allamah haji Muhammad As’ad yang merupakan seorang mufti Kerajaan Banjar dan beliau yang mengajarkan pendidikan langsung ke H. Sa’duddin. Ketika berusia 35 tahun, H. Sa’duddin menuntut ilmu di Mekah selama 10 tahun dan kembali dengan membawa ilmu pengetahuan dan bergelar AL-Alimul Al-lamah. Beliau pindah ke Kampung Taniran untuk berdakwah dan ditempat tersebut dimakamkan yaitu di Jl. Taniran Kubah, Angkinan.

Keempat adalah makam Habib Abu Bakar atau Habib Lumpangi. Beliau adalah habib di Laksado, Hulu Sungai Selatan yang datang dari Yaman, Yordania untuk keperluan berdakwah atau menyebarkan agama Islam. Tidak hanya warga Laksado, namun juga warga Kandangan, Barabai Nagara serta Amuntai yang datang ke pengajiannya. Beliau selama 45 tahun berdakwah hingga di tahun 1860 hijriah, wafat dan dimakamkan di Jl. Lumpangi, desa Lumpangi, Laksado, Hulu Sungai Selatan.

Salah Satu Tempat Ziarah di Surabaya Ini Akan Ditata Menggunakan Konsep Maroko Style

Kini wisata religi yang ada di Surabaya mulai diperbaiki. Penataan serta perbaikan ini dlakukan pada kawasan wisata ziarah Ampel. Hal yang membuat tempat ini sangat berbeda dengan tempat wisata ziarah yang lainnya adalah konsep yang diangkat oleh tempat wisata ziarah tersebut. Apa konsep dari wisata religi ini? Wisata ziarah Ampel dengan konsep Maroko style sudah ditentukan oleh pihak pengelola tersebut.
Anggaran serta kawasan pembangunan
Anggaran yang telah disiapkan untuk wisata ziarah Ampel dengan konsep Maroko style ini sebesar Rp.250 miliar dimana anggaran tersebut bertujuan untuk melakukan uji coba mengenai kelayakan untuk dapat memberikan pengembangan dalam kawasan wisata religi yang ada di Surabaya ini. Anggaran tersebut telah disapkan oleh Pemkot Surabaya sebagaimana yang telah diutarakan oleh Wiwiek Widayati selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya.
Ternyata grand design untuk wisata ziarah Ampel dengan konsep Maroko style ini memang sedang dibuat dan pada pembangunan infrastruktur tersebut akan banyak yang lebih disentuh. Bagian yang akan disentuh tersebut mulai dari Masjid Ampel sampai dengan sentra PKL dimana bagian kawasan parkir juga ikut kedalamnya.
Bagian yang harus diperbarui serta dihadirkan museum baru
Selain mengutamakan penemuan desain konsep awal dari tempat tersebut, ternyata wisata ziarah Ampel dengan konsep Maroko style ini juga akan ditambahkan sebuah museum dimana museum ini dapat dijadikan sebagai tempat edukasi untuk para pengunjung.
Beberapa bagian yang sekiranya merupakan bagian vital akan dipercantik lagi. Dinding, area makam, serta toilet juga akan dilakukan pembaruan serta dilakukan rehab.
Hal yang membantu untuk mempermudah proses pembangunan
Untuk dapat mempermudah proses pembangunan maka telah dihadirkan tim kajian yang turun langsung ke lapangan dimana tim tersebut akan mendata bagian apa saja yang harus dilakukan perbaikan dan diperbagus lagi. Pada grand design ternyata sudah tertera jika pembenahan kawasan parkir maupun sentra PKL yang harus terintegrasi.
wisata ziarah Ampel dengan konsep Maroko style ini nantinya akan dibangun 3 JPO (Jembatan Penyeberangan Orang) untuk menghindari terjadinya kemacetan dari arus lalu lalang para wisatawan. Hal tersebut memang sudah direncakan oleh Pemkot Surabaya. 3 JPO tersebut akan dibangun untuk setiap gerbang Ampel, baik itu bagian utara, selatan, maupun bagian tengah yang merupakan gerbang menuju ke sentra PKL.
Tujuan dibangunnya 3 JPO dan museum
Dibangunnya 3 JPO ini bertujuan agar para wisatawan dapat berkunjung ke sentra PKL. Bukan hanya itu saja museum yang akan dihadirkan nanti isinya adalah mengenai Ampel. Sehingga para wisawatan bukan hanya sekedar datang untuk beribadah, tetapi juga mendapatkan edukasi mengenai Ampel. Wiwiek juga berharap jika tempat ziarah tersebut bukan hanya dikunjungi oleh wisatawan yang beragama muslim tetapi agama lain juga dapat datang ketempat ziarah ini.
Bagian lain yang akan dibangun
Untuk dapat menekankan jika Ampel merupakan sebuah kawasan wisata yang religi maka gapura juga turut dibangun pada kawasan tersebut serta bagian yang menuju area makam yaitu koridor juga turut akan dilakukan perbaikan. Agar pergelaran festival Islami dapat terus berkembang maka akan ditambahkan juga beberapa fasilitas yang lainnya.
Tentunya wisata ziarah Ampel dengan konsep Maroko style ini sangat disambut baik oleh Menteri Pariwisata yaitu Arief Yahya. Karena dapat memberikan inspirasi untuk wisata ziarah lainnya yang ada di Surabaya maupun kota lainnya,