Taman Sri Deli yang Kini Menjadi Sepi

Kota Medan memiliki beberapa lokasi wisata yang merupakan peninggalan budaya zaman kesultanan dahulu. Salah satunya ialah Taman Putri Deli atau lebih akrab dengan nama Taman Sri Deli (TSD) yang sudah ada sejak zaman dulu. Beberapa tahun lalu TSD mengalami renovasi atau perombakan oleh Pemerintah Kota Medan. Renovasi yang dilakukan membuat lokasi taman bersejarah ini kemudian ditutup total selama dua tahun.

Mengenang Sejarah TSD

Seperti yang dituturkan oleh Sejarawan asal Medan, Hendrik Dalimunthe, TSD merupakan warisan kultural. Taman ini didirikan oleh Kesultanan Deli yang merupakan Kesultanan besar di Sumatra dan berdiri pada akhir abad ke sembilan belas. Pembangunan taman ini pada masa tersebut bersamaan dengan pembangunan masjid. Sehingga wisatawan atau masyarakat yang datang kesini memiliki kesempatan melihat langsung dua warisan kultural. Pembangunan TSD sendiri oleh Kesultanan Deli bertujuan untuk membangun tempat beristirahat keluarga Kesultanan.

Maka tidak mengherankan jika lokasi TSD berada tepat di depan Masjid dan juga Istana Maimun yang merupakan peninggalan sejarah bernilai tinggi. Pembangunan TSD ini menjadi petunjuk bahwa Kesultanan Deli berada pada masa keemasan dan kejayaan. Sehingga dibuat dengan desain sebaik mungkin dan selalu dijaga kebersihannya. Letaknya yang berada di dekat pusat pemerintahan dan pemukiman juga menjadikannya sebagai tempat Sultan Deli mengawasi kehidupan masyarakatnya.

Renovasi Taman Bersejarah

Tingginya nilai sejarah pada Taman Sri Deli menjadikannya sebagai salah satu taman kota yang ramai dikunjungi masyarakat. Lokasinya yang dekat dengan dua tempat bersejarah lainnya membuatnya pun sering dituju oleh wisatawan daerah lain. Pemerintah Kota kemudian memiliki rencana untuk melakukan renovasi dengan tujuan memperbaiki kondisi taman. Sayangnya rencana renovasi ini ternyata menuai pro dan kontra dari berbagai pihak. Pihak Sejarawan, akademisi, dan juga masyarakat merasa kurang setuju jika taman bersejarah direnovasi total.

Dikhawatirkan akan menghilangkan nilai sejarah di dalamnya sebab terjadi perubahan bentuk yang tidak sesuai kondisi asalnya. Meski begitu renovasi tetap berjalan dan menelan anggaran setidaknya Rp 9 Milyar yang oleh Pemerintah Kota. Mampu meningkatkan sektor pariwisata dengan membuat taman yang lebih indah dan menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan manca negara. Renovasi yang berjalan membuat TSD ditutup secara total dan setelah dua tahun renovasi rampung kemudian dibuka kembali secara umum.

Sayangnya taman yang sudah mengalami pembaharuan ini ternyata justru memberikan suasana yang berbeda 360 derajat dari sebelum renovasi. Dahulu TSD selalu menjadi tempat semua orang berkumpul dan bertemu. Keluarga mengajak anak-anak piknik kemari dan mereka yang masih pacaran memanfaatkan TSD sebagai tempat memadu kasih. Alhasil nyaris setiap hari dari pagi sampai malam TSD selalu penuh oleh mereka yang mencari suasana kultural nan menawan.

Lokasi taman ini pun membuka sumber mata pencaharian bagi masyarakat sekitar yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Sayangnya melalui renovasi yang menelan anggaran milyaran ternyata tujuan meningkatkan sektor pariwisata belum bisa terlihat efeknya. Suasana taman kini menjadi sepi, jikalaupun terlihat ramai itupun hanya di hari jumat dan sabtu. Pengunjung bahkan tidak memiliki tujuan datang ke TSD merupakan ke masjid di depannya.

Perubahan ini tentu sangat terasa terutama bagi para pedagang di sekitar taman, yang mengaku omsetnya merosot tajam. Salah satunya ialah pedagang minuman, yakni Andi, mengaku dulu sebelum taman direnovasi. Omzet penjualan minuman bisa 80ribu lebih per harinya, namun sekarang menerima 5ribu saja sudah harus bersyukur.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.