Slogan Sehari Tanpa Kopi Dari Belitung

Seolah menjadi pemandangan yang biasa ketika melihat banyak orang menghabiskan waktu sembari menikmati seduhan kopi. Demikianlah pemandangan yang akan bisa dilihat saat berkunjung ke Bangka Belitung, sebab masyarakatnya seolah membudayakan minum kopi. Bahkan masyarakat setempat memiliki slogan “tiada hari tanpa kopi” seperti yang nampak di setiap sudut kota Belitung. Hampir semua orang memanfaatkan waktu luang berkunjung ke warung kopi terdekat.

Budaya Minum Kopi Masyarakat Belitung

Tidak mengherankan jika di Belitung terdapat dua warung kopi yang cukup terkenal dan sudah berusia puluhan tahun. Banyak orang berkunjung ke Warung Kopi Ake yang sudah berusia lebih dari 50 tahun menyediakan seduhan kopi tradisional. Disini Kita akan melihat banyak orang duduk di bangku yang disediakan warung sembari memesan secangkir kopi. Berbagai kegiatan pun terjadi di atas meja warung yang sederhana, mulai dari perbincangan hingga menikmati kudapan dan kopi itu sendiri.

Berbincang – bincang sebagai bentuk sosialisasi semakin terasa nikmat jika ditemani kopi, apalagi dilakukan di warung yang penuh nostalgia. Topik yang dibicarakan oleh pengunjung Warkop Ake cukup beragam, mulai dari masalah politik, sosial, hingga budaya setempat. Memang diakui oleh pemilik warung bahwa sejak masih dikelola oleh sang kakek, warkop ini menjadi destinasi berbincang ditemani kopi pilihan. Sebab di warkop inilah pengunjung bisa memesan kopi dalam seduhan hangat atau disajikan dingin bersama pecahan es batu.

Orang dahulu datang ke Warkop Ake untuk membahas mengenai masalah politik sebab belum mengenal koran seperti di zaman sekarang. Biasanya pelanggan yang datang merupakan guru atau para pejabat yang terbiasa minum kopi di pagi hari. Minum kopi di rumah tentu tidak bisa memberikan informasi menarik seperti jika minum di warung seperti ini. Sebab minimnya media informasi membuat kegiatan bertemu langsung, bercakap – cakap, dan tertawa bersama menjadi penting. Siapa sangka kebiasaan sederhana tersebut sampai sekarang masih berjalan dan bahkan seolah berubah menjadi budaya.

Pengunjung Warkop Ake pun tidak segan untuk mengeluarkan suara yang lantang sembari berbincang atau tertawa lepas. Suara perbincangan antara meja satu dengan meja lainnya membuat suasana di warkop tersebut selalu penuh warna. Keramaian pengunjung pun seolah mengajak gemuruh lalu lintas di sekitar Tugu Satam untuk bersaing siapa yang paling riuh. Kadang kala perbincangan pelanggan membahas hal sepele dan ringan kadang pula berat seperti isu pemisahan diri wilayah Belitung dari Sumatera Selatan.

Hal serupa pun terjadi di Warung Kopi Kong Djie yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Warkop Ake, tepatnya di Persimpangan Jalan Kemuning. Keramaian pelanggan yang datang untuk menikmati kopi khas yang diolah secara tradisional. Membuat kondisi warkop selalu dipenuhi sampah puntung rokok sebab mayoritas menikmati kopi sambil menyesap rokok. Bagi pemilik, yaitu Ishak Holidi, warung kopi menjadi tempat yang ideal untuk saling bertukar informasi. Macam informasinya pun beragam, mulai dari soal keluarga, ekonomi, bisnis, dan juga menjalar kepada topik politik.

Seorang pemerhati sejarah Belitung, yakni Salim Yan Albert Hoogstad, budaya minum kopi oleh masyarakat Belitung sudah ada sejak jaman Belanda. Penduduk lokal pada masa tersebut ketika bertamu ke rumah Belanda sering disuguhi secangkir kopi. Apalagi zaman tersebut kopi merupakan minuman para bangsawan berdarah biru, sehingga menjadi simbol status sosial. Keberadaan Warung Kopi Ake dan Kong Djie yang sudah ada sejak jaman Belanda. Membuat budaya tersebut semakin kuat dan masih terjaga hingga sekarang.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.