Tiga Pilihan Candi Unik yang Patut Disambangi di Yogyakarta

Yogyakarta memang selama ini menjadi pusat tujuan wisata bagi sebagian besar wisatawan, bahkan sudah dikenal di kalangan turis asing. Kunjungan yang dilakukan tidak hanya sebatas pada obyek wisata belanja dan kuliner namun juga wisata budaya. Salah satunya obyek wisata candi yang jumlahnya lumayan banyak di seluruh daerah Yogyakarta. Wisatawan yang datang dan berencana menyambangi candi biasanya terpusat di Candi Prambanan dan Candi Borobudur.

Padahal kalau boleh jujur, bagi wisatawan yang mau meluangkan waktu mencari info bisa menjumpai lebih banyak candi bersejarah di Yogyakarta. Bagi yang tertarik berkelana ke berbagai candi bersejarah di Kota Gudeg ini, maka berikut beberapa pilihan yang bisa diambil:

1. Candi Ijo,
Candi Ijo memiliki nama demikian karena candi ini berada di kawasan perbukitan yang disebut Bukit Hijau (Gumuk Ijo). Candi Ijo sendiri juga berada di tempat tertinggi di Yogyakarta tepatnya di ketinggian 375 meter mdpl. Ketinggian inilah yang menjadikan Candi Ijo memberikan suguhan pemandangan yang cukup luas dan indah menyapu seluruh wilayah Yogyakarta. Desa tempat candi tersebut berdiri juga bernama Desa Ijo sesuai dengan apa yang terdapat dalam sebuah prasasti. Prasasti yang dimaksud adalah Prasasti Poh yang diperkirakan berasal pada masa 906 Masehi. Dalam prasasti tersebut menunjukkan juga bahwa candi bersejarah tersebut sudah memiliki usia ribuan tahun.

2. Candi Sambisari,
Candi Sambisari terletak di Desa Sambisari, dan menjadi salah satu candi yang cukup unik sebab terletak di bawah permukaan tanah. Diketahui candi ini berada di bawah tanah setinggi 6,5 meter, dan diperkirakan bisa terjadi. Disebabkan oleh adanya erupsi Gunung Merapi yang material muntahan gunung mengubur kawasan Candi Sambisari tersebut. Hal ini terlihat dari banyaknya material batuan vulkanik yang tersebar di sekitar kawasan candi. Candi Sambisari juga merupakan candi Hindhu, yang ditemukan oleh warga sekitar saat hendak mencangkul.

Kemudian dilakukan penelitian untuk mencari tahu apa yang ditemukan oleh petani tersebut, hingga diketahui. Bahwa bagian yang terkena cangkul tersebut merupakan bagian terkecil dari keseluruhan bangunan Candi Sambisari. Penelitian pun berlanjut sejak tahun 1966 dan kemudian mulai ditemukan bangunan induk secara utuh di tahun 1977. Beberapa bagian candi memang telah rusak sebagai dampak dari erupsi yang menimpanya. Namun pada beberapa bagian masih utuh dan bisa disaksikan hingga sekarang.

3. Candi Barong,
Satu lagi candi bercorak Hindu di Yogyakarta, yakni Candi Barong yang terletak di Kompleks Ratu Boko, Sleman. Nama Candi Barong sendiri diberikan oleh penduduk sekitar dari keberadaan hiasan kala yang terdapat di setiap sisi candi. Kala adalah sebuah bentuk kepala singa yang dikenal dengan sebutan Barong, maka dari hal tersebut kemudian dinamai Candi Barong. Keunikan lain yang dimiliki candi di kawasan Prambanan Sleman ini adalah penataan candi yang memusat ke bagian belakang.

Hal ini jauh berbeda dibandingkan candi bercorak Hindu lain, yang umumnya memusat di bagian tengah candi tersebut. Seperti yang terlihat pada desain Candi Prambanan yang memiliki pusat di bagian tengah dan candi ini menjadi terlihat berbeda. Selain itu juga memiliki desain punden berundak, yang dihubungkan oleh beberapa anak tangga. Beberapa area merupakan area terbuka yang seolah menjadi aula lapang dibandingkan area lain yang dihiasi candi dan arca. Pemandangan yang disuguhkan pun sangat memukau dan menjadi nilai tambah tersendiri.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.