‘Superman’ Penyu Dari Banyuwangi

Laut merupakan salah satu ekosistem yang dihuni oleh berbagai macam hewan dan tumbuhan, salah satunya adalah penyu. Penyu atau yang disebut juga dengan kura-kura laut memiliki kemampuan untuk berenang dan mampu menempuh jarak 3.000 km selama 58-73 hari. Penyu akan datang ke pantai untuk bertelur dan salah satunya terjadi di pesisir di Banyuwangi, Jawa Timur. Perburuan telur penyu sebagai salah satu makanan yang enak membuat banyak orang tertarik sehingga akhirnya banyak terjadi pencurian telur.

Di Banyuwangi terdapat ‘Superman’ penyu yang rela datang ke pesisir setelah mendapati kabar jika terdapat penyu yang baru saja bertelur untuk mencegah terjadinya pencurian telur dan tentunya dapat mengurangi jumlah penyu. Bernama Wiyanti Haditanojo, yang menjadi penggerak di Pesisir Banyuwangi, Jawa Timur termasuk saat kejadian pencurian telur marak di tahun 2013.

Di Banyuwangi memiliki garis pantai sepanjang 90 km yang menjadi arena perburuan dari telur penyu namun hanya sekitar 19 km yang mampu disambangi oleh para penyelamat telur. ‘Pertempuran’ akan dimulai sekitar bulan April-Oktober dimana para pemburu telur penyu akan muncul dan kemudian menjual telur tersebut di pasar atau dijual di kedai jamu tradisional sehingga tidak heran jika di pasar Banyuwangi banyak ditemukan telur penyu. Mirisnya, para pedagang tidak sungkan untuk memajangnya dan mematok harga sekitar Rp 2.000 per butirnya.

Dari bulan Juni-Oktober, Yayasan Penyu yang didirikan oleh Wiyanti Haditanojo atau yang biasa disapa Wiwid, seakan pindah ke pantai agar dapat menyelamatkan cikal bakal penyu walaupun tidak selalu berhasil karena kalah cepat dengan para pemburu. Untuk melakukan aksi penyelamat telur, Wiwid juga mengajak warga termasuk anak-anak untuk mau peduli terhadap telur misalnya dengan tidak mencuri telur penyu.

Yayasan penyu tersebut tidak selalu berjalan mulus karena terdapat berbagai halangan misalnya telur penyu yang hilang di tempat perlindungan penyu yang ada di Pantai boom, hilangnya pompa air untuk penetasan telur. Karena hal tersebut, akhirnya polisi turun tangan dan kini telur penyu tidak dapat diperdagangkan secara bebas walaupun beberapa menjualnya secara sembunyi-sembunyi.

Aktivitas penyelamatan telur penyu tidak dapat terhitung murah karena setidaknya Wiwid harus mengeluarkan kurang lebih Rp 12 juta/bulan dari keuntungan berbisnis peralatan elektronik. Uang tersebut digunakan tidak hanya untuk imbalan bagi para nelayan yang membantunya berjaga walaupun para nelayan tidak membantu berjaga, membeli makanan dan kopi saat mencari berjaga dan telur.

Telur yang sudah menetas biasanya akan langsung di lepaskan ke laut. Akan tetapi, Pak Wiwid akan membesarkannya hingga dirasa cukup untuk dapat bertahan di laut menghadapi para predator. Wiyanti Haditanojo akan membeli berkilo-kilo sarden sebagai makanan tukik-tukik yang dirawat. Walaupun cara ini pernah disalahkan karena menyalahi aturan, namun, dengan cara ini, Pak Wiwid dapat membantu untuk melindungi telur. Tidak hanya dibantu oleh nelayan yang didekati dan diajak untuk bergabung selama 3 tahun, Pak WIwid juga dibantu oleh Kuswaya yang merupakan seorang mantan dari Kepala Taman Nasional Batang Gadis yang berada di Sumatra Utara.

Wiyanti Haditanojo dan Ksuwaya saling berbagai pekerjaan dan memberikan semangat untuk tetap dapat melindungi telur penyu yang berada di pesisir Banyuwangi. Hasil kerja keras yang dilakukan Pak Wiwid bersama dengan para relawan dan yang termasuk ke Yayasan Penyu di Banyuwangi perlahan namun pasti membuahkan hasil. Pantai Boom yang 5 tahun lalu terabaikan dan yang menjadi singgahan penyu untuk bertelur saat ini menjadi daya tarik wisatawan untuk datang.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.