Siapa yang Menyangka Gundukan Tanah yang Menyerupai Bukit Teletubies Adalah Candi Abang

Mendengar nama kota Yogyakarta apa yang ada di benak Anda mengenai kawasan yang satu ini?, apakah penuh dengan peninggalan yang berbau kerajaan atau mungkin budaya yang masih sangat kental dianut oleh masyarakat yang tinggal di dalamnya. Tak memungkiri bahwa memang semua bisa kamu dapatkan disini, wisata budaya sekaligus sejarah yang pada dasarnya sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat, kebanyakan lebih menyukai wisata alam lainnya atau wahana bermain, kecuali mereka yang menyadari akan pentingnya nilai pendidikan yang terkandung dalam wisata tersebut.

Nyatanya memang tak bisa dipungkiri bahwa sebagian banyak kawasan yang ada di Jakarta memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi, apalagi keberadaan candi-candi yang berdiri gagah di dalamnya. Nama-nama candi Borobudur, mendut atau Prambanan tentunya sudah sangat biasa Anda dengar, mengingat salah satu diantaranya juga diakui sebagai warisan dunia bahkan pernah masuk ke dalam salah satu dari 7 keajaiban dunia, namun tak hanya itu saja, masih banyak candi lain yang ada disini, namun tak terlalu terkenal memang.

Satu diantaranya yang wajib untuk kamu singgahi adalah daerah Sleman, ada sebuah candi yang cukup menarik untuk kamu sambangi, tepatnya berlokasi di dusun Blambang, Desa Jogotirto, nantinya kamu akan menemukan sebuah candi berwarna merah yang diberi nama dengan candi abang. Abang sendiri merupakan bahasa jawa dari merah, sangat sesuai dengan bangunannya yang terbuat dari batu bata merah. Bangunan tersebut menjulang dengan sangat tinggi namun tidak membosankan juga, mengingat meskipun terbuat dari batu bata ia juga memiliki ukiran-ukiran dengan nilai seni yang sangat tinggi.

Sebenarnya kawasan yang satu ini lebih mirip dengan sebuah bukit jika dibandingkan dengan candi, mengingat dari bentuk tanahnya sendiri melengkung, hampir-hampir menyerupai sebuah lengkungan kecil nan hijau, beberapa orang menyebutnya sebagai bukit teletubies. Sebenarnya belum banyak data mengenai situs candi ini, namun animo wisatawan yang datang juga cukup tinggi, apalagi ditambah dengan adanya bukit berumput tersebut, banyak yang berkunjung sekedar untuk jalan-jalan atau mengabadikan moment.

Dalam catatan yang ada di candi abang ini dulunya pertama kali ditemukan adanya lingga yang menunjukkan bahwa candi ini termasuk peninggalan dari kerajaan Budha, tak lama setelah penemuan tersebut memang banyak beberapa peninggalan yang ditemukan disini, salah satunya adalah sebuah prasasti yang berisi pertanggalan, namun bukan sebuah acuan sebagai tanggal berdirinya candi abang, banyak arkeologi yang masih meneliti tentang peninggalan-peninggalan tersebut.

Bangunan candi ini memiliki halaman berukuran 65 meter untuk panjangnya dan 64 meter lebarnya. Banyak yang tak menyangka bahwa gundukan tanah yang menyerupai sebuah bukit tersebut adalah candi, mengingat ia tertutup dengan rumput apalagi pada saat musim penghujan tiba, namun jika diperhatikan secara lebih detail memang ada jajaran batu bata merah ditambah beberapa ukiran yang pastinya membuat Anda takjub. Namun meskipun dari struktur candi sendiri tak begitu tampak, namun area tersebut masih cukup ramai dengan pengunjung, khususnya di hari-hari libur.

Untuk sampai ke wilayah candi abang tak terlalu sulit, hanya saja kamu harus menyiapkan kendaraan pribadi, mengingat tak ada angkutan umum yang dapat membawa Anda memasuki kawasan tersebut, biaya yang dikenakan juga hanya untuk uang parkir saja, nah untuk sampai ke area candi Anda harus berjalan setidaknya 100 meter, kamu bisa naik ke atasnya dan bergantian untuk mengabadikan gambar.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.