Menikmati Pantai Selatan Jogja dari Ketinggian

Siapa yang tidak kenal dengan Yogyakarta? Selama ini kota yang memiliki kuliner khas Gudeg ini memang populer menjadi destinasi wisata. Wisatawan yang datang tidak hanya dari wisatawan luar daerah atau luar pulau namun juga dari banyak negara. Maka jangan heran jika masuk ke kawasan Yogyakarta Kita bisa bertemu dengan banyak turis asing. Selain menjadi destinasi wisata budaya dan juga wisata alam, kota yang kental budaya Jawanya ini juga menyajikan kegiatan liburan yang memacu adrenalin.

Menikmati Paralayang di Parangtritis

Yogyakarta selama ini juga sering menjadi tujuan wisata bagi mereka yang tertarik dengan kegiatan outdoor yang cukup ekstrim. Salah satunya ialah olahraga paralayang yang kini bisa dicoba atau dinikmati bagi pengunjung Parangtritis. Pantai yang cukup terkenal di kabupaten Bantul, Yogyakarta ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Munculnya kegiatan baru dalam bentuk paralayang seolah menjadi daya tarik yang semakin membuatnya kebanjiran pengunjung.

Sebenarnya kegiatan olahraga paralayang di tanah air dipelopori oleh Yogyakarta tepatnya pada tahun 1999 lalu. Bermula dari terbentuknya suatu kelompok anak muda yang menamai kelompoknya sebagai Kelompok Terjun Gunung Merapi. Anggota kelompok tersebut antara lain adalah Dudy Arief Wahyudi yang kini sudah almarhum dan Gendon Subandono. Mereka sebenarnya merupakan para pendaki gunung dan memiliki keinginan untuk bisa turun gunung lebih cepat. Barulah kemudian muncul ide untuk melakukan terjun payung dari puncak Gunung Merapi.

Atas alasan itulah maka nama kelompok mereka terdapat kata “Terjun Gunung”, yang memiliki makna cukup jelas. Tentunya terjun payung dari puncak gunung yang tinggi masih cukup baru dan belum pernah ada yang melakukannya. Maka sebelum keduanya benar-benar menerjunkan diri dari puncak Merapi, terlebih dahulu melakukan riset dan latihan. Melalui literatur berbagai buku yang membahas teknik dan segala hal dalam olahraga paralayang. Keduanya kemudian mempelajarinya sekitar tiga bulan lebih secara mandiri, setelahnya mencoba mempraktekkannya.

Mereka mulai mempelajari bagaimana teknik untuk mengawali penerbangan, mengendalikan pada saat melayang, kemudian teknik mendarat dengan tepat dan aman. Sebagai pendaki gunung tentu tidak memiliki dasar ilmu dan pengalaman yang menyangkut kegiatan paralayang tersebut. Setelah dirasa semua teori yang dipelajari cukup membantu mereka kemudian latihan di lapangan. Awalnya mereka memutuskan mencoba di Parangtritis yang memiliki karang tinggi. Selain itu mereka pun mulai mencoba olahraga paralayang di lingkungan kampus.

Seiring berjalannya waktu, kegiatan olahraga yang menerjunkan diri dengan parasut dari puncak gunung mampu menarik minat banyak orang. Setelah dirasa nama “Terjun Gunung” cukup ekstrim sekaligus berkesan mengajak kepada bunuh diri. Kemudian sekarang kegiatan ini diganti nama menjadi lebih enak di dengar dan tentunya lebih keren, yakni paralayang. Para pecinta kegiatan alam yang menantang pun mulai menjajal sensasi adrenalin dari ketinggian gunung ini. Sebut saja seperti tokoh kegiatan alam Wien Soehardjo, Daweris Taher, Sukmo, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kegiatan paralayang kemudian terus berkembang dan semakin populer hingga terdapat banyak tempat yang cocok untuk menikmatinya. Kini kegiatan ekstrim ini sudah mendapatkan tempat tersendiri bagi masyarakat dan semakin bertambah. Jika dahulu sebelum bisa menikmati sensasi terjun dari puncak gunung harus datang ke gunung tertentu. Kemudian melewati kesulitan pendakian dengan medannya yang tidak kalah menantang dan melelahkan. Kini siapa saja yang tergiur menjajal paralayang semakin terfasilitasi dengan kendaraan khusus yang mengantar ke lokasi atau puncak gunung tertentu.

Share this:

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.